| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Tuesday, October 17, 2006,2:23 PM

Sejahtera dan Damai

Iman Sugema
Inter CAFE, Institut Pertanian Bogor

Komite Hadiah Nobel akhirnya mengeluarkan keputusan yang sangat mengejutkan yakni memberikan Nobel untuk bidang perdamaian kepada seorang ekonom yang bernama Muhammad Yunus dari Bangladesh. Dikatakan mengejutkan karena biasanya hadiah ini lebih kerap dianugrahkan kepada mediator perdamaian dan aktivis HAM. Selain itu, apa yang dikerjakan Profesor Yunus sama sekali tak ada kaitan langsung dengan perdamaian.

Yunus adalah seorang ekonom yang membidani Grameen Bank, sebuah lembaga keuangan yang menyalurkan kredit mikro kepada penduduk miskin terutama perempuan. Tak ada ide yang begitu revolusioner yang dibuahkannya. Yunus sendiri mengakui bahwa ia hanya menerapkan hal-hal yang sangat sederhana. Yang menjadi revolusioner adalah dampak dari gerakan yang dimotori Yunus terhadap kehidupan kaum papa. Selama seperempat abad lebih, ia dan teman-temannya menggugah dunia dalam memerangi kemiskinan melalui tindakan nyata dan bukan konsep yang muluk-muluk.

Pertanyaannya kemudian adalah apa yang membuat Yunus menjadi sangat spesial sehingga mengalahkan kandidat lain yang justru secara langsung berkutat dengan masalah perdamaian? Apa hubungan kemiskinan dengan perdamaian? Kenapa Yunus tidak dihadiahi Nobel di bidang ilmu ekonomi? Berikut ini, mungkin merupakan beberapa catatan penting yang bisa menjawab pertanyanan di atas.

Pertama, kesejahteraan hampir selalu berdampingan dengan kedamaian. Itulah sebabnya kita selalu menyatukan kedua kata tersebut, damai sejahtera. Kesejahteraan tak akan pernah tercipta tanpa adanya perdamaian. Kedamaian tak punya arti apa-apa tanpa kesejahteraan. Karena itu, upaya pengentasan kemiskinan adalah merupakan bagian dari memaknai sebuah perdamaian.

Amartya Sen - pemenang Nobel ekonomi - menyatakan bahwa kemiskinan merupakan sebuah bentuk keterbelengguan (unfreedomness). Walaupun diberikan demokrasi dan kebebasan yan seluas-luasnya, orang miskin tak akan mampu menikmatinya. Mereka terbelenggu oleh himpitan kehidupan. Persoalannya, mereka tak memiliki kemampuan untuk mentransformasikan demokrasi menjadi kesempatan ekonomi.

Selain itu, fakta empiris juga menunjukan bahwa konflik horizontal dan pemberontakan lebih sering terjadi di negara-negara miskin. Kemiskinan rupanya banyak terkait dengan tindakan kekerasan. Konflik di negara yang demokratis dan sejahtera menjadi lebih terkelola. Sebaliknya, di negara miskin sering terjadi secara berkepanjangan dan tidak mudah diselesaikan.

Hal ini menimbulkan sebuah paradigma baru yakni pendekatan kesejahteraan akan mampu menciptakan perdamaian di dunia ini, walaupun tak bisa dijamin seratus persen. Kesejahteraan merupakan common interest bagi individu maupun kelompok yang hidup di suatu negara. Jika common interest ini tidak bisa terwujud atau hanya dinikmati oleh sebagian pihak saja, maka akan timbul luka sosial yang dalam.

Kedua, Yunus telah menunjukan bahwa tanggung jawab mengatasi masalah kemiskinan tidak hanya ada di pundak pemerintah. Semua lapisan masyarakat dapat berpartisipasi sesuai dengan kapasitasnya. Peranan pemerintah di Grameen Bank relatif sangat minimal. Grameen Bank lebih mirip sebuah gerakan swadaya masyarakat dari pada sebuah lembaga keuangan formal pada umumnya.

Yunus telah bisa menunjukan bahwa sesama orang miskin sekalipun bisa saling membantu. Penduduk miskin dimandirikan untuk bisa menolong dirinya sendiri dan menolong tetangganya. Dalam pandangan Yunus tidak ada dikotomi antara kaya dan miskin. Tak penting juga apakah orang kaya akan secara sukarela 'membantu' kelompok miskin. Bagi Yunus yang terpenting adalah bagaimana memerdekakan orang dari kemiskinan. Dalam kacamata Yunus, isu terpenting adalah kemiskinan absolut dan bukan kemiskinan relatif. Kemiskinan relatif hanya menjadi relevan ketika kemiskinan absolut sudah teratasi.

Ketiga, memerangi kemiskinan adalah sebuah pekerjaan besar yang perlu dilakukan secara sistematis dan konsisten. Terlalu banyak dari kita yang meremehkan ide dasar Grameen Bank yang teramat sederhana. Ya, memang betul idenya sangat sederhana dan tak sulit untuk difahami. Tetapi yang tersulit adalah melaksanakan ide tersebut dalam jangka waktu yang lama dan mentransformasikannya menjadi sebuah gerakan sosial. Dengan cara ini dua hal bisa tercapai sekaligus: 1) penduduk miskin dapat tertolong dan 2) upaya tersebut tidak menimbulkan beban anggaran bagi pemerintah.

Bisa kita sarikan bahwa pengentasan kemiskinan tidak harus memakai duit pemerintah. Yang terjadi di Indonesia justru sangat menyedihkan. Uang pemerintah dihabiskan untuk membiayai berbagai macam program anti kemiskinan dan bahkan sebagiannya dibiayai dari pinjaman luar negeri, tapi tetap saja kemiskinan tak tertangani dengan baik. Sudah uang habis dan malah kemiskinan bertambah.

Sudah saatnya kita mengambil pendekatan non-konvesional. Yunus telah menunjukan bahwa pengentasan kemiskinan dapat ditempuh melalui gerakan sosial yang bersifat masal. Pembangunan juga pada intinya adalah menggerakan masyarakat untuk melakukan pembangunan. Tampaknya inilah yang kurang kita sadari di era reformasi ini. Hampir tak ada program ekonomi yang mampu menggerakan masyarakat. Setiap saat kita mengeluh dan pesimis terhadap apa yang akan dilakukan pemerintah.

Sebagai penutup, Yunus bukanlah ekonom yang canggih dalam berteori. Tetapi ilmunya menjadi lebih bermanfaat dibanding profesor ekonomi paling beken di dunia. Apakah ekonom Indonesia siap menyusul?

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home