| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Saturday, July 15, 2006,12:54 PM

Benar atau Pintar?

Jakob Sumardjo

Kini, manusia Indonesia lebih suka dinilai pintar daripada dinilai benar. Pintar milik beberapa orang, sedangkan benar milik semua orang, karena pintar berdimensi pikir, sedangkan benar berdimensi nurani.

Berbagai penghargaan diberikan kepada orang-orang pintar, orang-orang benar salah lahir di dunia orang pintar. Sebenarnya pintar itu kultur, kerja mental. Sedangkan benar adalah natur, terbawa sejak lahir.

Dunia modern adalah dunia orang pintar. Siapa yang pintar akan benar. Kebenaran orang pintar adalah konstruksi pikiran. Semuanya akan benar jika bangunan pikirannya tersusun rapi, koheren-menyatu, sesuai hukum logika. Kebenaran orang pintar adalah kebenaran eksklusif dan isolatif karena hanya benar dalam bangunannya sendiri. Orang pintar hanya benar di lingkungan yang bangunan pikirannya sama atau mirip.

Apakah kebenaran itu?

Apa yang dinilai benar selalu mendatangkan perdebatan karena kebenaran selalu dilihat dari segi kepintaran. Benar dan tidak benar dinilai dari alam kesadaran, yakni pikiran. Sedangkan kebenaran atau benar adalah soal kehadiran, penghayatan, pengalaman, realitas obyektif. Manusia sejak zaman balita telah belajar mengenali apa yang benar dan tidak benar. Benar itu terasa, cocok, pas, gathuk, dengan penghayatan manusia itu sendiri.

Benar itu amat nyata, hadir, terindra. Semua orang mampu melihat kebenaran itu. Kebenaran yang diperdebatkan senantiasa ada pikiran yang masuk ke dalamnya. Kanak-kanak adalah manusia paling peka dalam mengendus hadirnya kebenaran. Itu sebabnya, mereka yang kanak-kanak dijamin akan masuk surga.

Kekacauan antarmanusia dimulai dengan kata-kata, alat pikirannya. Kosakata kebenaran itu terbatas dan universal, yakni ah, o, ih, hu, hm. Ungkapan ah, oh, hm adalah tanda, yang dilihat dan didengarnya benar. Sedangkan ungkapan hu dan hm tanda yang dilihat, didengar, dan dialami tidak benar. Itulah bahasa kanak-kanak, bahasa penghayatan, bahasa kebenaran. Bahasa spontan, bahasa spiritual. Bahasa tanpa pikiran. Bahasa hati nurani.

Kini kian banyak orang pintar di televisi, radio, penerbitan, mimbar, dan panggung. Mereka pandai bersilat lidah. Mereka setiap hari memproduksi kosakata baru. Udara dipenuhi kata-kata. Manusia percaya pada kata-kata. Manusia menggantungkan diri dari kata-kata. Perdebatan kian merobek. Kekacauan menggila. Semua terjadi karena manusia mendewakan kata-kata, alat pikiran manusia pintar itu.

Manusia kian buta melihat kebenaran. Kebenaran tidak pernah dihayati, dialami. Dirasakan, dimasukkan dalam kata hati. Kebenaran hanya dilihat dalam kepintaran berkata-kata. Kebenaran yang nyata hadir secara konkret di depan mata itu pun dapat diingkari oleh kepintaran. Dunia ini dapat dijungkir balik oleh kepintaran. Yang benar itu salah, yang salah itu benar. Di mana nuranimu manusia? Di mana kanak-kanakmu?

Manusia yang benar kini dinilai sebagai manusia bodoh. Lebih baik menjadi orang benar meski tidak pintar. Tentu lebih baik lagi jika orang benar itu juga orang pintar, daripada menjadi orang pintar tetapi tidak benar. Dan kenyataannya di Indonesia ini kian banyak orang tidak benar sekaligus tidak pintar. Itulah tragedi bangsa ini, banyak orang pintar tidak benar dan banyak orang tidak benar yang tidak pintar.

Buta kebenaran

Kepekaan terhadap hadirnya kebenaran itulah yang kini mulai menipis di Indonesia. Mudah-mudahan bangsa ini belum buta kebenaran. Buta kepintaran masih lebih baik daripada buta kebenaran. Tanpa kepintaran, manusia masih dapat hidup. Tanpa kebenaran, manusia akan musnah. Benar lebih bernilai daripada pintar. Pintar menuntun manusia menuju kemakmuran duniawi. Benar menuntun manusia menuju keselamatan. Kombinasi pintar dan benar menuju masyarakat yang adil dan makmur. Apa gunanya makmur tanpa keadilan dan kebenaran?

Tanpa kebenaran, sebuah bangsa akan musnah. Bukan benar dalam arti ideal-rasional, tetapi benar dalam arti kualitas kebenaran itu sendiri, yang obyektif terwujud dan dirasakan, dialami, dihayati secara sama oleh semua orang. Yang benar itu tidak menipu jika dirasakan cocok dan gathuk dengan nurani manusia di mana pun dan kapan pun. Yang benar itu hadir secara nyata, gamblang, dan terang. Bagaimana pun orang mau memutarbalikkan yang benar secara rasional. Yang benar itu tetap akan benar.

Namun kini orang tak malu-malu lagi untuk memutarbalikkan kebenaran dengan nilai lidah kepintarannya. Tidak benar itu wajar-wajar saja di Indonesia. Si terhukum tak malu mengaku telah menyogok jaksa yang tidak memberi imbalan jasa atas sogokannya. Korupsi itu bukan lagi tidak benar. Korupsi itu kewajaran di Indonesia. Bahkan korupsi itu semacam hak istimewa karena tidak setiap orang diberi kesempatan korup. Orang bisa bangga di depan hakim, di depan umum, dirinya seorang koruptor kakap, bukan koruptor teri. Koruptor kakap lebih bangga karena menunjukkan dirinya lebih pintar mengorup uang negara. Koruptor teri itu bodoh. Sudah korupnya recehan, ketahuan lagi. Sedang saya ini koruptor mahakakap selama puluhan tahun dan baru ketahuan sekarang. Kenyataan ini menunjukkan betapa lihainya memutar orang agar korupsi saya tak ketahuan.

Tangisan pujangga Jawa, Ronggowarsito, masih berlangsung hingga kini. Ia mengatakan, dalam Zaman Edan negara memiliki menteri-menterinya yang cerdik pandai, namun mereka tak mampu menepis pejabat negara yang sudah edan, tidak ingat dan waspada terhadap kebenaran. Berbahagialah, di zaman edan ini, manusia yang peka, selalu ingat dan waspada, terhadap Yang Benar.

Jakob Sumardjo Esais

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home