| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Wednesday, April 19, 2006,12:30 PM

Terorisme Salah Satu Reaksi Globalisasi

Jakarta, Kompas - Terorisme dan fundamentalisme Islam merupakan salah satu dari tiga reaksi atas globalisasi. Globalisasi dimulai dari bidang ekonomi dan kemudian merambah ke berbagai bidang lainnya, termasuk dominasi kekuasaan oleh Amerika Serikat. Dua reaksi lainnya adalah sikap yang menganggap globalisasi biasa saja dan menghadapinya dengan nasionalisme sempit.

Hal ini disampaikan presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid, ketika menjadi pembicara kunci dalam bedah buku Terorisme di Tengah Arus Global Demokrasi di Jakarta, Selasa (18/4). Bedah buku yang dilaksanakan Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia ini menghadirkan Fadli Zon dari Dewan Redaksi Horizon; Agus Maftuh, pengajar Universitas Islam Negeri Yogyakarta; dan Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Imam Addaruquthni sebagai pembicara. "Fundamentalisme Islam muncul karena merasa terancam kemajuan teknologi dan sebagainya, maka Islam merasa perlu melakukan perlawanan ekstra," ujar Abdurrahman yang akrab dipanggil Gus Dur. Namun, menurut Gus Dur, yang tidak kalah menyedihkan adalah munculnya nasionalisme sempit dari kalangan tokoh nasional. "Mereka merasa seolah- olah paling nasionalis. Ini bisa dilihat seperti geger-gegeran soal pemberian visa oleh Australia terhadap 42 warga Papua. Padahal, dibiarkan saja akan selesai sendiri," ujarnya. Meski demikian, menurut Gus Dur, mayoritas rakyat Indonesia masih berpikiran waras dan tidak ketakutan ataupun terpengaruh perangkap globalisasi.

Senada dengan Gus Dur, Fadli Zon mengatakan, globalisasi sangat melekat dengan watak Amerika. Juga melekat dengan imperialis ekonomi, militer, dan penguasaan dunia. "Bayangkan, kekuasaan Amerika saat ini melebihi kekuasaan imperium Romawi," ujarnya. (mam)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home