| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Monday, April 17, 2006,10:14 PM

Ketelanjangan (Korupsi) Indonesia

Joddy Morison Turnip

Bercokolnya korupsi Indonesia di urutan ke-6 dari 159 negara yang disurvei (Kompas, 17/11/2005) menunjukkan ketelanjangan korupsi Indonesia.

Bangsa Indonesia mengklaim diri sebagai bangsa religius, namun banalitas korupsinya tidak bisa ditutup-tutupi. Korupsi menelanjangi dan menyingkap moral kolektif bangsa.

Perilaku korup merasuk ke seluruh sendi kehidupan bangsa, bahkan ke lembaga keagamaan dan peradilan. Ketelanjangan korupsi menjadi ironi bila dihadapkan pada persoalan definisi ketelanjangan badani dalam RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi yang lebih bersifat reduktif.

Energi masif yang terkonsentrasi pada determinasi ketelanjangan badani seharusnya lebih tercurah kepada refleksi dan upaya memberantas perilaku penelanjangan moral bangsa ala korupsi yang secara sistematis memurukkan dan memiskinkan.

Menjadi ateisme praktis

Korupsi Indonesia yang masuk top ten dunia akan menelanjangi identitas religius bangsa. Wajah religius bangsa tercoreng perilaku korup kolektif. Naif rasanya tetap mengklaim diri sebagai bangsa religius dengan "prestasi" korupsi begitu besar. Sejumlah hipotesis diajukan untuk mengecam kebobrokan itu, antara lain korupsi telah menjadi kultur bangsa (Kompas, 7/11/2005).

Dalam bingkai identitas religius, pantas diajukan sebuah proposal hipotesis baru: dalam fenomena korupsi Indonesia terkandung bentuk ateisme praktis.

Ateisme praktis adalah disposisi diri yang percaya kepada Tuhan, tetapi dalam hidup sehari-hari berlaku seolah tidak ada Tuhan. Dalam ateisme praktis, ada segregasi antara hidup keagamaan (religiositas) dan perilaku harian (moralitas). Seseorang yang sadar atau tidak sadar menganut ateisme praktis bisa sempurna melaksanakan ritual ibadah sekaligus melakukan korupsi tanpa merasakan hardikan moral dalam dirinya.

Immanuel Kant mengatakan, "Dua hal yang membuktikan keberadaan Tuhan adalah bintang-bintang di langit dan hukum moral dalam diriku."

Dalam etika religius Kant, hukum moral bersifat imperatif-kategoris, wajib adanya, sehingga secara implisit ungkapan itu hendak menandaskan bahwa pengabaian hukum moral dalam diri manusia dengan sendirinya berarti tidak mengakui keberadaan Tuhan.

Kant tak mendasarkan moralitas pada religiositas, tetapi melihatnya sebagai bidang-bidang yang segaris, sementara penganut ateisme praktis sanggup menghidupi diskrepansi bidang-bidang itu. Memang hidup keagamaan adalah urusan pribadi. Tetapi, premis-premis itu tidak terelakkan menghantar pada konklusi pemikiran bahwa korupsi sebagai habitus merupakan bentuk ateisme praktis. Silogisme ini hendak menggugat kedok religius yang dipakai untuk menutupi ketelanjangan perilaku korup.

Mengenakan habitus baru

Lagu Untuk Kita Renungkan (Ebiet G Ade) memercikkan pencerahan bagi wacana ketelanjangan kita. Lirik "Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin…" menyarat makna dan pesan moral.

Aspek lahir dan batin ketelanjangan perlu diperhatikan. Tetapi, dalam bingkai renungan atas situasi terkini, pantas diperhatikan proporsionalitas antara animo pembasmian ketelanjangan moral dan badani. Tanpa pretensi membiarkan pornografi dan pornoaksi, pembasmian penelanjangan moral ala korupsi lebih mendesak. Terasa satiris jika seseorang menelanjangi (sebagian) tubuh untuk mencari nafkah di tengah karut-marut ekonomi bangsa yang keropos digerogoti koruptor yang menelanjangi tubuh moral bangsanya.

Mungkin para koruptor senang dengan elaborasi hukum seputar ketelanjangan badani karena akan menggeser konsentrasi hukum yang selama ini menggelisahkan mereka.

Mengenakan habitus baru merupakan seruan untuk meng-up- grade moralitas bangsa. Arti leksikal habit adalah kebiasaan atau pakaian. Hanya habitus (pakaian) baru yang mampu menutupi ketelanjangan moral akibat korupsi. Sebagai seruan ideal, habitus baru hendaknya dikenakan sejak dini lewat pendidikan antikorupsi di sekolah maupun di keluarga. Pembelajaran habitus baru membutuhkan contoh perilaku. Contoh moral itu pertama-tama harus ditunjukkan para pemimpin dan penyelenggara negara.

Joddy Morison Turnip Mahasiswa Pascasarjana STFT St Yohanes, Pematangsiantar

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home