| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Friday, April 28, 2006,1:19 AM

Kemiskinan dan Ekonomi Balon

Kwik Kian Gie

Berita utama Kompas tanggal 20 April 2006 melaporkan pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pembukaan pameran Inacraft 2006. Sungguh menarik karena berisi pengakuan bahwa jumlah pengangguran dan kemiskinan tidak menurun walaupun ada pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu masyarakat dibuat tercengang atas melejitnya indeks harga saham gabungan (IHSG) dan menguatnya nilai tukar rupiah. Apakah dua buah indikator ekonomi ini riil ataukah semu, dan bahkan merupakan balon? Hal ini akan saya ulas di paruh kedua tulisan ini.

Bisa bertolak belakang

Yang dikemukakan oleh Presiden SBY sangat menggembirakan. Kita gembira tidak karena masih banyaknya pengangguran dan kemiskinan, tetapi gembira karena Presiden mengenali bahwa hubungan antara apa yang dinamakan indikator ekonomi makro dengan penderitaan rakyat bisa bertolak belakang. Hampir semua ekonom dan lembaga-lembaga internasional selalu mengatakan, pertumbuhan ekonomi mesti mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Bahkan dihitung secara eksak bahwa pertumbuhan ekonomi sekian persen akan mengurangi pengangguran sekian persen.

Lebih konyol lagi, dihubungkan begitu saja secara eksak bahwa investasi sekian persen akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekian persen. Maka, yang dikejar hanyalah pertumbuhan ekonomi tanpa peduli apakah pertumbuhan itu lebih memperkaya yang sudah kaya dan lebih menyengsarakan yang sudah miskin. Sekarang Presiden SBY terang-terangan mengatakan bahwa "... lapangan kerja baru yang tercipta oleh satu persen pertumbuhan ekonomi masih sangat rendah."

Terus bagaimana? Presiden SBY seolah didukung oleh ekonom Amerika yang menjadi terkenal karena bukunya yang menghebohkan (The Confessions of an Economic Hitman), yaitu John Perkins. Saya kutip yang relevan buat tulisan ini. Halaman 15-16: "Faktor yang paling menentukan adalah pendapatan domestik bruto (PDB). Proyek yang memberi kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan PDB harus dimenangkan. Walaupun hanya satu proyek yang harus dimenangkan, saya harus menunjukkan bahwa membangun proyek yang bersangkutan akan membawa manfaat yang unggul pada pertumbuhan PDB.... Pertumbuhan PDB bisa terjadi walaupun hanya menguntungkan satu orang saja, yaitu yang memiliki perusahaan jasa publik, dengan membebani utang yang sangat berat buat rakyatnya. Yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin. Statistik akan mencatatnya sebagai kemajuan ekonomi."

Pengenalan oleh Presiden SBY bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menciptakan lapangan kerja juga didukung oleh angka-angka di Indonesia. Selama 32 tahun sejak tahun 1967, pertumbuhan PDB rata-rata 7 persen per tahun. Namun, perbandingan antara perusahaan besar dengan usaha kecil dan menengah (UKM) per tahun 1999 sebagai berikut: jumlah perusahaan 36.815.409. Yang besar 1.831 atau 0,01 persen. Yang UKM 36.813.578 atau 99,99 persen. Sumbangan dari yang 0,01 persen dalam pembentukan PDB sebesar 59,36 persen. Yang hanya 0,01 persen menyumbang 40,64 persen dalam pembentukan PDB.

Ikut membentuk PDB berarti berproduksi dan berdistribusi, serta memperoleh laba. Bayangkan ketimpangannya selama 32 tahun dengan pertumbuhan PDB tinggi.

UKM yang praktis tidak mendapat fasilitas apa-apa menyerap 99,44 persenangkatan kerja. Yang 0,01 persen dengan segala fasilitas, termasuk BLBI, menyerap 0,56 persen saja angkatan kerja. Ini memang angka-angka tahun 1999. Tetapi, saya pernah melihat angka-angka per tahun 2003. Bedanya tidak berarti sama sekali. Terlihat bahwa kaitan antara pertumbuhan PDB dengan penyerapan tenaga kerja dan pengurangan kemiskinan bisa sangat jauh kalau arah investasi tidak direncanakan dengan baik.

Bagaimana penjelasannya? Yang diartikan dengan PDB adalah semua produksi seluruh bangsa dijumlah menjadi satu. Maka, kalau PDB dari seluruh bangsa dibuat oleh sekitar 100 orang dan karena padat modal mempekerjakan 200.000 buruh saja, dampaknya kenaikan PDB-ya hanya menyangkut 100 orang yang super kaya beserta 200.000 buruh yang memperoleh pekerjaan.

Peningkatan IHSG

Sekarang tentang meningkatnya IHSG dan penguatan rupiah. Dalam sejarah fluktuasi IHSG dan nilai tukar rupiah, keduanya seringkali terkait nyaris absolut. Mari kita segarkan ingatan kita tentang apa yang pernah terjadi di masa lampau.

Coba simak kembali statistik di masa lampau yang terkait dengan dua indikator ekonomi tersebut. Kita pernah mengenal angka IHSG 200, meningkat sampai 600, turun lagi menjadi 200, meningkat lagi sampai 600, turun lagi menjadi 200, dan kemudian meningkat lagi terus sampai sekitar 1.400 sekarang ini. Berbarengan dengan peningkatan angka IHSG, selalu diberitakan besar-besar betapa Indonesia kemasukan uang dollar banyak sekali yang dibelikan saham-saham di Bursa Efek Jakarta.

Apa dampaknya? Permintaan terhadap saham-saham Indonesia meningkat tajam yang membuat IHSG meningkat tajam. Karena yang membeli investor asing, mereka membawa dollar masuk yang dibelikan rupiah terlebih dahulu. Penawaran dollar dan permintaan rupiah meningkat tajam sehingga nilai rupiah menguat.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah modal asing akan mengalir masuk terus? Kalaupun tidak, apakah modal asing yang sudah tertanam dalam saham-saham itu tidak akan pernah dijual dengan maksud merealisasi labanya, yang lantas dibelikan dollar untuk dikembalikan ke negara asalnya?

Kalau ya, dapat diperkirakan bahwa ketika saham-saham dijual cepat dalam volume besar, IHSG akan menurun terus. Hasil penjualannya dalam rupiah akan dibelikan dollar yang berarti penawaran rupiah dan permintaan dollar akan melonjak. Akibatnya, IHSG dan nilai tukar rupiah bersama-sama anjlok. Apakah pernah terjadi? Sering seperti yang saya gambarkan tadi.

Pertanyaan menarik selanjutnya ialah apakah gejolak yang saya gambarkan itu kebetulan atau by design oleh para investor besar yang spekulan profesional? Yang sudah pernah kita alami memang direncanakan.

Ketika saham-saham rendah harganya yang dicerminkan dengan IHSG yang 200, investor asing membeli terus. Dengan pembelian ini harga saham meningkat terus. Ketika mencapai puncaknya yang 600, harga pokok rata-ratanya (200 + 600) : 2 = 400. Ketika mencapai puncaknya yang 600 laba mulai direalisasi dengan menjualnya. Para investor spekulan profesional mengatur penjualannya agar pada saat IHSG mencapai 400, semua sahamnya sudah terjual habis. Kondisi psikologi massa membuat investor amatiran tidak akan berhenti. Mereka akan menjualnya terus seraya menurunkan IHSG sampai titik terendah yang 200.

Apakah pola tersebut akan terulang? Buat saya, ya, karena tidak dapat dibayangkan uang sebanyak itu yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan keuangan internasional yang pandai dan berpengalaman ditanam dalam saham perusahaan- perusahaan Indonesia dengan perhitungan memperoleh keuntungan dari dividen. Motifnya jelas spekulasi.

Tentang penguatan rupiah

Bukankah rupiah menguat karena ekspor versus impor atau transaksi berjalannya surplus terus? Tidak juga. Tahun 1998 sampai dengan tahun 2004 memang surplus terus. Tetapi, bukan karena ekspornya yang meningkat tajam, melainkan impornya yang menurun tajam sebagai akibat dari krisis yang diikuti dengan kelesuan ekonomi. Karena ekonomi lesu, produksi menurun dan kebutuhan akan bahan baku dan bahan penolong yang diimpor menurun. Daya beli juga merosot sehingga impor barang konsumsi juga menurun.

Sekelumit angka-angkanya: transaksi berjalan tahun 2003 surplus 8,1 miliar dollar AS. Tahun 2004 masih surplus, tetapi menyusut menjadi 3,1 miliar dollar AS atau berkurang dengan 61,7 persen. Triwulan II tahun 2005 sudah minus 798 juta dollar AS dan triwulan III 2005 minus 2 juta dollar AS. Jelas sekali kecenderungannya menuju pada defisit dalam transaksi berjalan. Ekonomi baru mulai bangkit sedikit saja, impornya sudah lebih besar daripada ekspornya. Ini berarti kekuatan ekonomi kita sangat lemah. Kekuatan rupiah semata-mata karena masuknya dana asing yang spekulatif dan footloose.

Semua faktor krusial mengindikasikan melejitnya IHSG dan menguatnya rupiah karena spekulasi besar-besaran oleh para spekulan internasional yang profesional. Bahkan ada indikasi bukan spekulasi biasa lagi, tetapi dengan perencanaan supaya saham-saham habis ketika IHSG merosot sampai titik yang tidak lebih rendah daripada harga pokok rata-rata.

Mari sekarang kita letakkan semua yang saya tulis ini dengan latar belakang kredit bermasalah (non performing loan) yang membengkak. Banyaknya sepeda motor yang dikembalikan karena konsumen tidak mampu meneruskan cicilannya. Merosotnya kemampuan bank menyalurkan kreditnya maupun merosotnya permintaan kredit dari perusahaan-perusahaan. Bertenggernya loan to deposit ratio (LDR) yang tetap saja sekitar 40 persen. Ditutupnya banyak perusahaan karena tidak mampu bersaing dengan barang-barang dari China. Keuangan negara yang akan semakin sempit karena meningkatnya harga minyak. Kekalutan berpikir dalam pola subsidi dan sebagainya.

Saya tidak peduli terhadap pemodal besar. Artikel ini bermaksud membela pemodal yang pas-pasan. Janganlah ikut- ikutan. Anda menabungnya dengan susah payah.

Kwik Kian Gie Ekonom Senior

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home