| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Thursday, March 22, 2007,8:50 PM

Capres Harus Sarjana Dianggap Taktik Jegal Mega

Jakarta (ANTARA News) - Wakil Ketua Fraksi PDIP DPR RI Ramson Siagian menganggap pemerintah bermain kayu terkait Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 dengan menawarkan wacana berupa persyaratan seorang calon presiden (Capres) dan cawapres harus berpendidikan minimal sarjana.

Ramson Siagian di Gedung Palemen di Senayan Jakarta, Kamis menilai, usulan Capres dan Cawapres harus sarjana sangat mengada-ada.

"Itu taktik main kayu untuk menjegal Mega. Kalau calon rektor, dekan atau peneliti, memang perlu orang yang bertitel akademi tinggi. Tetapi untuk seorang presiden tidak harus seperti itu. Yang diperlukan seorang presiden adalah `strong leadership`," katanya.

Ramson berharap Mendagri M Ma`ruf berkaca pada Bill Gates, seorang yang tidak punya ijazah S1 tetapi jenius di bidang komputer dan bisnis administrasi serta pemilik Microsoft Corporation dengan pendapatan 45 miliar dolar AS atau setara Rp420 triliun.

Bill Gates, katanya, mempunyai 71.000 karyawan yang tersebar di 103 negara dan menjadi orang terkaya nomor satu di dunia.

Bill, kuliah di Harvard University tahun 1973 dan tahun 1975 keluar tanpa menyelesaikan studinya. Belum tentu doktor teknologi informasi dan doktor business administration dan doktor ekonomi bisa seperti Bill Gates.

"Kalau Mendagri mau cari muka, jangan main kayu seperti itu," kata anggota Komisi XI (bidang keuangan dan perbankan).

Indonesia banyak doktor tetapi gelar itu diperoleh karena rajin belajar, bukan rajin berpikir menerapkan teori ke dalam praktik untuk memperbaiki keadaan. Ilmuwan Indonesia belum mampu menerapkan ilmunya dan belum mampu menemukan teori baru untuk mengubah keadaan.

Banyak doktor ekonomi dan doktor pertanian tetapi belum mau mendorong terciptakan kebijakan yang pro petani. Bahkan Indonesia terancam krisis pangan karena politik perberasan justru merugikan petani.

"Belum ada tanda-tanda kita bisa berswasembada pangan, malah harga beras jadi mahal. Petani makin sulit, harga pupuk tinggi dan distribusi berantakan, kemiskinan dan pengangguran makin banyak," katanya.

"Ke depan, yang diperlukan adalah seorang pemimpin yang berani mengambil keputusan dan mampu me-manage instrumen politik dan ekonomi negara serta didukung rakyat," kata anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Tengah ini.(*)

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home