| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Wednesday, October 18, 2006,11:55 AM

Giliran Korut Mengintimidasi AS

Maruli Tobing

Tahun anjing banyak membawa sial ketimbang keberuntungan. Pemerintahan Presiden George W Bush ikut mengalaminya.

Jumlah pasukan Amerika Serikat yang tewas maupun cedera di Irak dan Afganistan meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Keamanan dan ketertiban makin buruk.

Citra AS sebagai negara adikuasa mulai padam. Gertakan militernya tidak lagi menakutkan negara-negara Dunia Ketiga. Iran, misalnya, bertekad meneruskan program nuklirnya. Presiden Sudan, Presiden Letjen Omar Hassan al-Bashir, tetap menolak kehadiran pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Darfur. Al-Bashir tidak peduli kendati Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice mengancam "konfrontasi atau kerja sama".

Di forum internasional, Presiden Venezuela Hugo Chavez menyebut Presiden Bush sebagai "Hitler Abad ke-21". Julukan ini meningkat menjadi "iblis" ketika Chavez berpidato di depan Sidang Majelis Umum PBB, 20 September 2006.

Klimaksnya adalah percobaan bom nuklir Korea Utara, Senin (9/10) pagi waktu setempat. Kali ini Washington benar-benar kebakaran jenggot. Segala upaya dilakukan agar Dewan Keamanan PBB menjatuhkan sanksi berat terhadap Korea Utara.

Celakanya, Korea Utara sendiri tidak gentar. Malah balik mengancam, penambahan sanksi ekonomi terhadap Korea Utara akan dianggap sebagai bentuk pernyataan perang. Pyongyang mengingatkan, jika AS tidak segera menghentikan kasak-kusuk dan permusuhannya, percobaan bom nuklir akan dilakukan kembali.

Lantas, mengapa AS begitu risau terhadap senjata nuklir Korea Utara? Bukankah India dan Pakistan memiliki banyak senjata nuklir?

Poros kejahatan

Washington menuding percobaan bom nuklir Korea Utara sebagai ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional. Korea Selatan dan Jepang, yang merupakan bagian dari pilar ekonomi dunia, menjadi cemas karena Pyongyang akan menggunakan senjata nuklir mengintimidasi negara tetangganya.

Situasi demikian akan mendorong Jepang dan Korea Selatan memproduksi senjata yang sama. Alhasil, lahir ketegangan baru di kawasan Asia Timur, yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi perang nuklir.

Korea Utara melihat dari sisi sebelahnya. Lebih dari setengah abad negara berpenduduk 23,1 juta jiwa ini berada di bawah ancaman bom nuklir AS. Maka, selama ribuan pasukan AS berada di perbatasan Korsel-Korut, pangkalan militer AS di Okinawa (Jepang) dan Guam, pemimpin Korea Utara tidak akan pernah merasa aman.

Washington memang menghendaki situasi tidak nyaman tersebut. Bertahun-tahun AS melancarkan kampanye propaganda untuk mendiskreditkan dan mengisolasi Korea Utara. Konflik yang terjadi di berbagai negara, misalnya, selalu dikaitkan dengan perdagangan senjata Korea Utara. Negara ini juga dituding mensponsori aksi terorisme.

Lebih parah lagi, AS mempropagandakan Pemerintah Korea Utara terlibat dalam bisnis narkoba, uang palsu, dan beragam kejahatan lainnya. Klimaksnya, Presiden George W Bush menyebut Korea Utara bersama Iran dan Irak (di era Saddam Hussein) sebagai "poros kejahatan" dunia.

Sebutan tersebut mengandung makna strategis, yakni perlu pergantian rezim agar dunia aman. Hal yang sudah dilakukan di Irak. Saddam Hussein, yang tadinya pemimpin flamboyan dengan kekuasaan absolut, kini duduk di kursi terdakwa sebagai tontonan rakyat Irak maupun masyarakat internasional.

Nasib Iran sendiri belum pasti. Apalagi kapal induk bertenaga nuklir AS, Enterprise, sedang berlayar menuju Timur Tengah. Kalangan pengamat umumnya berpendapat, AS tidak akan menyerang Iran. Ini karena akan membahayakan posisinya di Irak dan dapat melambungkan harga minyak mentah di atas 100 dollar AS per barrel. Namun, AS tidak akan berdiam diri jika hegemoni nuklirnya sirna di kawasan Timur Tengah.

Pindahkan perang ke AS

Pergantian rezim "poros kejahatan" dunia merupakan agenda utama pemerintahan Presiden George W Bush. Karena dimasukkan dalam kategori perang melawan teror, AS dapat melakukan penyerangan militer lebih dulu. Maka, pergantian rezim di Korea Utara hanya tinggal menunggu waktu.

Namun, situasinya berubah total, termasuk lingkup geopolitik, setelah Korea Utara melakukan percobaan bom nuklir.

"Perang mendatang berbeda dengan perang Korea di masa silam. Kali ini lebih tepat disebut perang AS-Korea karena panggungnya pindah ke daratan AS. Kota-kota besar AS akan berubah menjadi neraka,’’ tulis Dr Kim Myong Chol di Asia Times Online (6/10) beberapa hari sebelum percobaan nuklir Korea Utara.

Kim Myong Chol, penulis sejumlah buku dan dikenal sebagai juru bicara tidak resmi pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Il, mengingatkan AS agar tidak gegabah. Saat ini Republik Demokrasi Rakyat Korea menempati urutan keempat terkuat persenjataan nuklirnya setelah AS, Rusia, dan China.

Korea Utara kini memiliki beberapa tipe bom dan berhulu ledak nuklir, atom, hidrogen, dan neutron. Roket pengantarnya berjarak dekat, menengah, hingga antarbenua, yang dapat menjangkau seluruh kota di AS.

Pernyataan Kim Myong Chol jelas bukan sekadar gertakan. Larry A Niksch menulis dalam North Korea’s Nuclear Weapons Program (Congressional Research Service, Mei 2006), berdasarkan laporan CIA dan intelijen Departemen Pertahanan AS, tahun 1993 saja Korea Utara berhasil memurnikan 12 kg plutonium. Cukup untuk membuat dua bom atom. Jepang mencatat angka lebih tinggi, yaitu 16 kg-24 kg plutonium.

Produksi plutonium Korea Utara diperkirakan bertambah 25 kg-30 kg hingga tahun 2003. Untuk satu bom atom dibutuhkan sedikitnya 6 kg plutonium. Jenderal Leon LaPorte, mantan panglima militer AS di Korea Selatan, mengatakan, Korea Utara memiliki 3-6 bom nuklir sebelum tahun 1994.

Masalahnya menjadi serius bagi AS karena Korea Utara mengembangkan misil antarbenua. Menurut Steven A Hildreth, North Korean Balistic Missile Threat to the United States (Juli 2006), misil bertingkat tiga tipe Taepo Dong-1, yang jangkauannya 1.500-2.500 km, dengan hulu ledak 1.000 kg-1.500 kg, diluncurkan pada 31 Agustus 1998.

Misil tersebut digunakan untuk mengorbitkan satelit pertama Korea Utara. Rudal Taepo Dong-2 diluncurkan pada 6 Agustus 2003, yang dapat menjangkau kota-kota di pantai barat AS.

Menurut Kim Myong Chol, Korea Utara tidak pernah berpikir menggunakan senjata nuklir sebagai alat berunding, kecuali dalam perang melawan AS, musuh utama Korea Utara. Lantas jika dikatakan Jepang dan Korsel menjadi cemas, jelas tidak beralasan. Sebab, selama ini kedua negara di bawah payung sistem pertahanan nuklir AS.

Menurut Kim, Korea Utara sama sekali tidak keberatan jika Jepang dan Korea Selatan memproduksi senjata nuklir. Namun, AS pastilah menolak karena akan kehilangan penghasilan dari "jasa keamanan’’ dan penjualan senjata bagi pertahanan kedua negara.

Dalam bahasa Prof Peter Hayes (2006), pakar Korea Utara, Pyongyang sebagai musuh Washington mengakhiri hegemoni nuklir AS. Dengan sendirinya kepemimpinan AS akan melorot di Asia Timur.

Perkiraan Peter Hayes tidak meleset. Korea Utara yang tampil dengan sosok baru kini berbalik mengintimidasi AS. Satu-satunya negara yang berani mengancam akan menjadikan kota-kota AS sebagai panggung neraka perang.

Lantas, apakah diplomasi "kapal perang’’ AS di Asia akan berubah menjadi "macan kertas’’?

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home