| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Friday, September 15, 2006,1:29 PM

Kemiskinan di Dunia Islam

Surwandono
Dosen Fisipol UMY, Mahasiswa Doktoral Ilmu Politik UGM

Polemik tentang kemiskinan di tanah air sedemikian menyeruak, seakan fenomena kemiskinan sebagai sebuah fenomena yang baru sehingga perbincangan angka kemiskinan menjadi sangat signifikan. Ataupun ada kecenderungan 'makhluk' kemiskinan merupakan variabel yang sangat penting untuk memotret keberhasilan suatu rezim, sehingga banyak langkah manipulatif dilakukan untuk menunjukkan bahwa pemerintah telah berhasil menyelesaikan perkara kemiskinan dengan baik. Kasus yang menerpa presiden SBY dalam pidato Kenegaraan di DPR, 16 Agustus 2006 disinyalir banyak fihak sebagai upaya tersebut.

Tulisan ini tidak akan menganalisis tentang persoalan strategi manipulatif untuk menekan angka kemiskinan, tetapi justru akan mengurai tentang problem kemiskinan di dunia Islam. Sebuah area yang sebenarnya memiliki potensi yang besar untuk menjadi negara kaya, namun secara faktual angka kemiskinan di dunia Islam masih sangat absolute.

Variabel kemiskinan
Dalam konteks yang paling sederhana, proses pendefinisian kemiskinan dilihat dari persoalan keterpenuhan kebutuhan hidup seseorang dibandingkan dengan pendapatan yang diperolehnya. Definisi inilah yang kemudian cenderung dipakai secara universal, baik dari Unesco ataupun dalam survey Sesunas BPS akhir-akhir ini.

Memang dalam batas tertentu alat ukur kemiskinan berdasarkan variabel fisik cenderung bias, dan mudah untuk dimanipulasi sesuai dengan kebutuhan. Analisis Revrisond Baswir dalam Republika, 4 September 2006 banyak mengulas tentang sisi lemah pengukuran kemiskinan dengan alat ukur ini.

Dalam diskursus tentang kemiskinan di dunia Islam, seorang Yusuf Qaradhawy telah melakukan telaah yang cukup komprehensif dalam buku 'Kemiskinan di Dunia Islam' (1996). Secara konseptual, Islam memiliki dua kata yang merujuk kepada orang miskin: faqir dan masakin. Istilah faqir merujuk pada kondisi di mana seseorang sudah dalam posisi hopeless (putus asa) untuk berkarya, karena apapun yang dilakukan ia akan tetap miskin. Kecenderungan orang seperti ini sudah tidak mau berkarya lagi, sehingga langkah yang dilakukan adalah meminta-minta sebagai sebuah budaya.

Sedangkan masakin merujuk pada kondisi di mana seseorang telah bersusah payah bekerja keras, namun hasil usaha tersebut tidak mampu mencukupi kebutuhannya. Namun orang tersebut tidak berputus asa untuk bekerja, karena putus asa merupakan langkah dari setan.

Dalam pandangan Qaradhawy probabalitas antara faqir dan masakin di dunia Islam, masih didominasi kemiskinan sebagai corak masakin. Orang Islam sudah bekerja keras namun belum dihargai kerja tersebut secara memadai sehingga bisa ditarik sebuah benang merah bahwa kemiskinan di dunia Islam lebih disebabkan oleh persoalan struktural, malfungsi kebijakan, baik yang berdimensi nasional ataupun internasional.

Pertama, Persoalan struktural yang sangat mencolok adalah masih dominannya paradigma pembangunanisasi di dunia Islam yang bercorak liberalis-kapitalistik. Sehingga pilihan strategi utamanya adalah dengan menggunakan strategi pertumbuhan. Dengan pilihan ini sebenarnya, pemerintah telah secara sengaja menciptakan kemiskinan kepada sekelompok orang untuk senantiasa miskin. Paket ini kemudian ditambah dengan semakin intensnya penetrasi kekuatan internasional, seperti IMF dan World Bank yang mengunakan global views sebagai ukuran standar yang pada akhirnya menabrak dan menghapus local wisdom.

Dalam pandangan Johan Galtung, penetrasi kekuatan internasional di dunia ketiga justru melahirkan paket-paket distorsi yang akut, seperti korupsi, makelarisasi hutang (debt comprador) sampai penyalahgunaan utang. Utang bukan menjadi trigger kesejahteraan namun justru menjadi trigger kemiskinan.

Dunia Islam cenderung belum mempergunakan Islamic wisdom untuk menata persoalan ekonomi dan pembangunan. Islamic wisdom dipastikan akan lebih kompatibel dibandingkan dengan American wisdom, western wisdom, ataupun eastern wisdom.

Kedua, persoalan struktural adalah persoalan manajemen konflik di dunia Islam. Dalam studi yang dilakukan oleh Drysdale Alaysdair bahwa konflik di dunia Islam lebih disebabkan oleh faktor artifisial dibandingkan dengan faktor alamiah. Artinya konflik di dunia Islam sebagai gejala buatan, rekayasa oleh fihak tertentu yang memiliki kepentingan terhadap berlangsungnya konflik tersebut. Indeks konflik di dunia Islam cenderung diwarnai gejala konflik perbatasan, dan primordialisme yang rentan dengan penetrasi asing.

Yang juga pelik dalam proses konflik ini adalah terdapatnya kecenderungan para elite politik di dunia Islam untuk memelihara konflik sebagai bagian dari upaya mempertahanakan kekuasaan meskipun berimplikasi kepada tersendotnya anggaran kesejahteraan. Kenyataan inilah yang membuat Qaradhawy menjadi berang. Perang justru dimanipulasi oleh elite yang berkuasa untuk tujuan nafsu kekuasaan sepihak.

Teramat jelas bahwa terdapat konspirasi dan penetrasi asing dalam konflik yang terjadi di dunia. Semisal konflik Iran-Irak, Iran Syiah dengan Arab Sunni, Irak-Kuwait, ataupun Afghanistan, dan Israel-Arab. Keberadaan military industrial complex (MIC) yang sengaja memanas-manasi terjadinya perang sebagai sebuah skenario bisnis yang menguntungkan setali tiga uang dengan keinginan rezim untuk senantiasa berkuasa.

Islamic wisdom
Proses pengentasan kemiskinan secara komprehensif sangat diperlukan guna menjamin bahwa dunia Islam bukan lagi sebagai area yang tertinggal. Pandangan KH Didin Hafidhuddin di Republika, 3 September 2006 sangatlah menarik. Bahwa isu ekonomi syariah sebagai metode pengentasan kemiskinan bukan lagi hanya sekadar menjadi alternatif namun sudah berubah menjadi keharusan. Artinya upaya pemantapan struktural sistem internasional Islam disertai dengan intensifikasi interaksi dalam impelementasi dalam proses pembangunan di dunia Islam sebagai sebuah kebutuhan. Hal ini penting untuk mengurangi bahkan menghapus distorsi ekonomi politik yang selama ini menjerat sistem pembangunan di dunia Islam.

Demikian pula dengan problem konflik sesama dunia Islam yang telah menguras energi kesejahteraan, harus didesiminasi resolusi konflik yang berbasis brotherhood wisdom. Ini penting untuk menghindari proses primordialime konflik yang sering disusupi dan dimanfaatkan oleh kekuatan internasional yang selama ini teramat kentara.

Rezim yang cenderung menjual isu keamanan secara berlebihan harus senantiasa diantisipasi secara cerdas. Merujuk kepada surat Al Hujurat, brotherhood wisdom akan efektif untuk mengurangi arogansi, menjelek-jelekan fihak lain, mencari-cari kesalahan, ataupun pengembangan semangat berprasangka buruk, sebagai sumber utama terjadinya konflik yang mengarah ke perang. OKI sebagai lembaga internasional dunia Islam dan organisasi non pemerintah Islam yang lain, seperti Rabitha Alam Islami (Liga Islam) ataupun ICIS yang baru saja dibentuk bisa berperan untuk mendesiminasi brotherhood wisdom. Semoga, Islamic wisdom akan menjadi jalan terang proses penyelesaian kemiskinan secara komprehensif.

Ikhtisar

- Kemiskinan di dunia Islam masih didominasi corak masakin, yakni mereka terus berusaha giat, tapi belum mampu mencukupi kebutuhan.
- Pembangunan di dunia Islam juga masih lebih bersifat liberalis-kapitalistik dengan penetrasi kekuatan internasional yang makin intens.
- Persoalan konflik di dunia Islam yang terjadi akibat rekayasa, menyulitkan upaya memerangi kemiskinan.
- Diharapkan, Islamic wisdom bisa menjadi jalan keluar mengatasi kemiskinan di dunia Islam.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home