| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Monday, August 07, 2006,11:42 AM

Mengapa Hizbullah (Sulit) Dihancurkan?

Oleh Sus Eko Ernada

Kampanye militer Israel untuk menghancurkan kekuatan gerilyawan Hizbullah telah memasuki minggu keempat. Tapi, tak ada indikasi bakal berhasil. Sebaliknya, Israel justru menuai kecaman dari masyarakat internasional atas aksi militernya tersebut.

Kampanye militer seperti ini bukan yang pertama dilakukan Israel. Toh kekuatan Hizbullah tidak bisa dihancurkan. Keberhasilan Hizbullah memadukan dual approach strategy, antara merebut kekuasaan secara politik di Lebanon melalui jalur politik dan sekaligus mengembangkan kemampuan militer, menjadikan Hizbullah sulit dihancurkan.

Sepak Terjang

Hizbullah yang berarti "Partai Tuhan" adalah payung organisasi perlawanan dari kalangan Shiah muslim Lebanon yang didirikan pada 1982 menyusul invasi militer Israel ke wilayah Lebanon. Tujuan utama Hizbullah ialah mendirikan negara theocracy ala Iran, melenyapkan negara Israel, dan mengurangi pengaruh Amerika Serikat dalam percaturan politik dan dinamika sosial di Lebanon.

Sejak berdiri Hizbullah mampu mendemonstrasikan kemampuan militernya secara menakjubkan. Berturut-turut, pada Oktober 1983 Hizbullah berhasil menyerang barak marinir Amerika Serikat dan markas besar tentara Prancis di Beirut. Aksi tersebut menewaskan 241 marinir AS dan 54 tentara Prancis, sehingga memaksa kedua negara itu meninggalkan wilayah Lebanon. Pengamat militer menilai hal ini sebagai serangan di awal berdirinya Hizbullah yang paling sukses.

Hizbullah juga dianggap bertanggung jawab atas serangan terhadap Kedutaan AS di Beirut pada April 1983 dan September 1984 dan menewaskan 58 staf keduataan, yang belakangan diketahui banyak di antara mereka adalah anggota CIA.

Untuk melumpuhkan kekuatan Hizbullah, Israel membunuh Sekjen Hizbullah yang pertama, Syeikh Abbas Mussawi, dan keluarganya dengan meluncurkan roket melalui helikopter pada Februari 1992.

Atas peristiwa itu, Hizbullah melakukan serangan balasan yang tidak diperhitungkan sebelumnya oleh Isreal, yaitu melakukan serangan di luar wilayah Israel. Pertama, pada Maret 1992, Hizbullah menyerang Kedutaan Israel di Buenos Aries, menewaskan 29 orang.

Serangan kedua pada Juli 1992, Hizbullah menyerang pusat kebudayaan Yahudi di Buenos Aries dan menewaskan lebih dari 85 orang. Kemampuan Hizbullah melakukan serangan di luar wilayah Israel menunjukkan pertumbuhan kemampuan militer Hizbullah secara internasional yang mengagetkan AS, Israel, dan masyarakat internasional pada umumnya.

Perpaduan Strategi: Politik dan Militer

Terbunuhnya Mussawi di tangan Israel tidak menyurutkan dan melemahkan gerak langkah Hizbullah dalam melawan Israel. Justru secara paradoksial kematian Mussawi menjadi energi bagi Hizbullah untuk menata arah perjuangannya.

Menurut Clive Williams, seorang pengamat intelijen dan terorisme dari ANU Australia, kematian Mussawi malah mendewasakan pemimpin Hizbullah yang sekarang, Shiekh Hasan Nasrullah, yang dianggap berhasil menjalankan dual approach strategy, antara merebut kekuasaan secara politik di Lebanon dan meningkatkan kemampuan militernya.

Secara politik Hizbullah berhasil merebut simpati rakyat Lebanon dengan mengedepankan isu tentang kesejahteran sosial melalui pembangunan rumah sakit, sekolah, dan membantu pembangunan rumah-rumah penduduk.

Dengan gerakan politik yang simpatik, Hizbullah saat ini berhasil menguasai 11 persen kursi di parlemen Lebanon atau sekitar 14 di antara 128 kursi. Hizbullah juga menempatkan dua kadernya di dalam kementerian kabinet Lebanon yang sekarang.

Sementara itu, dalam waktu bersamaan sayap militer Hizbullah telah membangun kemampuan militer secara signifikan. Saat ini sayap militer Hizbullah mempunyai 5.600 milisi tempur yang terlatih dengan baik. Menurut data intelijen Israel, Hizbullah mempunyai lebih dari 10 ribu part time milisi yang siap ditempatkan di baris terdepan medan tempur.

Hizbullah juga memiliki persenjataan yang cukup canggih, termasuk roket Katyusha buatan Soviet dan China, serta Fajr-3 dan Fajr-5 buatan Iran. Katyusha mempunyai jangkauan tembak sampai 25 kilometer, sementara Fajr-3 dan Fajr-5 memiliki jangkauan tembak 45 kilometer dan 75 kilometer. Dua roket terakhir adalah yang diluncurkan ke kota Haifa Israel oleh Hizbullah dari wilayah selatan Lebanon.

Selain itu, Hizbullah masih dimungkinkan mempunyai Zelzal-2 buatan Iran dengan kemampuan membawa hulu ledak seberat 600 kg dan mempunyai jangkauan tembak sampai 200 km-400 km. Dengan senjata ini, dimungkinkan Hizbullah dapat menyerang Tel Aviv yang berjarak 100 km dari wilayah selatan Lebanon.

Perkembangan lain Hizbullah ialah berhasil membangun kerja sama yang intensif dengan HAMAS Palestina untuk melawan Israel. Meski Hizbullah dan HAMAS mempunyai pandangan keagamaan yang berbeda -Hizbullah berasal dari kelompok Islam Shiah, sedangkan HAMAS berasal dari Islam Sunni- mereka mempunyai common enemy dan visi perjuangan yang sama.

Dalam hal ini keinginan melenyapkan negara Israel dan khusus bagi HAMAS adalah menuntut dikembalikannya hak lima juta pengungsi Palestina. Kesamaan visi tersebut memungkinkan kedua belah pihak saling mendukung di bidang logistik dan pelatihan-pelatihan kemiliteran.

Dalam empat minggu peperangan ini, Hizbullah dan Nasrullahlah yang justru mendapat banyak kredit poin, terutama dari negara-negara Arab, (kecuali Arab Saudi dan Mesir yang menilai Hizbullah sebagai penyebab perang), karena hanya Hizbullah dan Nasrullah yang berani melawan Israel.

Sementara itu, tindakan Israel justru memosisikan Israel sebagai musuh negara-negara Arab dan dunia Islam pada umumnya. Bahkan, Israel telah kehilangan dukungan dari "teman-temannya" di Barat.


Sus Eko Ernada, staf pengajar HI Unej, Jember, sedang menjadi peneliti pada Centre for Arab and Islamic Studies/Middle Eastern and Central Asia Studies, Australian National University, Canberra Australia.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home