| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Friday, August 04, 2006,11:42 AM

Zionis Israel, The Real Terrorist

Sumarno
Pengajar Mata Kuliah Zionisme Internasional di FISIP UMJ

Israel dan terorisme ibarat dua sisi dari satu mata uang. Sepanjang hayatnya, Zionis Israel menjadikan terorisme sebagai strategi andalan untuk mewujudkan cita-citanya. Bagi Zionis Israel, cara-cara teroristik dianggap legal dan lazim jika ditujukan kepada Palestina dan para penentang terbentuknya negara Yahudi.

Bukan hanya warga sipil yang menjadi korban keganasan pasukan zionis, pos pengawas PBB pun digempur sehingga menewaskan 4 orang stafnya yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan. Sejak Israel melakukan agresi ke Lebanon dan Palestina, lebih dari 750 warga sipil Lebanon dan 150 warga Gaza, Palestina gugur.

Bagi Israel, tidak ada perbedaan antara warga sipil dan militer, dewasa dan anak-anak, laki-laki dan perempuan, semuanya bisa menjadi sasaran serangan militer jika hal itu diyakini dapat melemahkan musuhnya. Meski sebagian besar masyarakat internasional, kecuali AS dan Inggris, mengutuk tindakan biadab itu dan menyeru gencatan senjata, Zionis mengabaikannya.

Dalam pandangan Israel, hukum internasional, tata krama pergaulan dunia dan bahkan resolusi PBB sekalipun tidak ada artinya kalau tidak sejalan dengan kepentingan nasionalnya. Kekejian itu semakin mengukuhkan bahwa Zionis Israel adalah the real terrorist.

Teroris sejati
Sejarah Israel penuh dengan tindakan teror kekerasan atas orang-orang sipil. Sebelum Israel didirikan di atas tanah Palestina tahun 1948, para tokoh Zionis telah membentuk organisasi paramiliter Zionis seperti Haganah, Irgun, dan Stem guna melapangkan jalan bagi berdirinya national home bangsa Yahudi. Kelompok itu menerapkan cara-cara teror seperti penangkapan, penyiksaan, dan pembunuhan untuk mengusir orang-orang Palestina dari tanah mereka. Hampir tidak ada hari tanpa darah tertumpah dari orang yang tak bersalah di Palestina.

Teror itu berlangsung secara massif dan keji sehingga terjadi pengungsian bangsa Palestina secara besar-besaran guna menyelamatkan diri. Tanah dan rumah-rumah yang telah ditinggalkan bangsa Palestina kemudian diduduki dan dijadikan permukiman Yahudi.

Dalam situs www.tragedipalestina.com digambarkan fakta kebiadaban teroris zionis Israel. Dalam situs itu diungkapkan pada 1948, Moshe Dayan, yang kemudian menjadi menteri pertahanan, memimpin pembantaian di Masjid Dahmash yang menyebabkan 100 orang Palestina syahid, 60.000 orang mengungsi, dan 350 orang lebih akhirnya juga meninggal dalam perjalanan. Dalam tahun yang sama, Zionis juga melakukan pembantaian di Salha dengan cara menggiring penduduk masuk ke dalam masjid dan kemudian membakarnya. Sekitar 105 warga Palestina syahid.

Yang lebih biadab lagi adalah pembantaian di Deir Yassin yang dilakukan oleh organisasi teroris Irgun dan Stem, yang dipimpin Menachem Begin yang kemudian menjadi PM Israel. Pada malam 9 April 1948, rumah-rumah penduduk di Deir Yassin dibakar dan semua orang yang mencoba melarikan diri dari api ditembak mati. Selama serangan ini, wanita-wanita hamil dicabik perutnya dengan bayonet, anggota tubuhnya dipotong-potong, dan lainnya diperkosa. Sekitar 52 orang anak-anak disayat-sayat tubuhnya di depan mata ibunya, lalu mereka dibunuh secara keji. Lebih dari 280 warga Palestina syahid di tangan zionis.

Bagaikan cerita bersambung yang memilukan, teror zionis atas Palestina tidak pernah berhenti. Pembantaian terjadi di Qibya (1953: 96 syahid), Kafr Qasem (1956: 49 syahid), Khan Yunis (1956: 275 syahid), Gaza (1956: 60 syahid), Fakhani (1981: 150 syahid), Masjid Aqsa (1990: 11 syahid dan 800 terluka), Masjid Ibrahimi (1994: 50 syahid), Qana, Lebanon (1996: 109 syahid) dan lain-lain. Belum lagi pembantaian zionis atas bocah-bocah Palestina dalam intifadhah.

Di antara operasi teroris Zionis itu yang paling terkenal kebiadabannya adalah pembantaian pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila, Lebanon tahun 1982 yang merenggut nyawa lebih dari 3.000 warga Palestina. Arsitek pembantaian itu adalah Ariel Sharon yang bekerja sama dengan kelompok Phalangis Kristen, Lebanon. Dengan dalih mencari pejuang Palestina, para pengungsi yang tidak bersenjata, tanpa membedakan usia dan jenis kelamin, diberondong senjata otomatis secara membabi buta. Setelah pembantaian keji itu, Ariel Sharon mendapat julukan dari berbagai media sebagai 'Tukang Jagal Timur Tengah'. Kebiadaban Zionis Israel tampaknya tidak ada yang mampu menyamainya, sekalipun dibandingkan dengan kekejaman Hitler dan Slobodan Milosevic di Bosnia Herzegovina.

Propaganda teror menjadi sangat diminati para pemimpin zionis karena hasilnya cukup efektif. Hingga saat ini, lebih dari 10.000 warga Palestina mendekam dan disiksa di penjara-penjara Israel. Pembunuhan dan penyiksaan sadis lalu menimbulkan efek ketakutan yang luar biasa bagi ribuan orang sehingga mereka terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya untuk menyelamatkan diri. Bagaikan pucuk dicinta ulam tiba, kepergian bangsa Palestina itu dimaknai para pemimpin Zionis sebagai pintu pembuka bagi imigran Yahudi yang terdiaspora di berbagai negara untuk datang ke Palestina.

Tak tersentuh hukum
Meskipun setiap hari mesin perang Zionis Israel terus menebar maut, dunia internasional tidak bisa berbuat banyak. Jika menghadapi Israel, sepertinya seluruh lembaga dan perangkat hukum internasional tidak berdaya. PBB, Mahkamah Internasional, GNB, dan sebagainya hanya berani melakukan langkah-langkah simbolik dan artifisial yang tidak banyak artinya, seperti memprotes, mengecam dan mengutuk.

PBB, badan dunia yang begitu gagah jika berhadapan dengan negara lain, tiba-tiba menjadi mandul jika berhadapan dengan Zionis Israel dan pendukungnya (AS). Bahkan, saat pos pengawas PBB digempur dan menewaskan 4 orang stafnya di Lebanon, PBB tidak melakukan tindakan apapun, kecuali hanya menyesalkan kejadian itu. Begitu juga saat Israel melanggar begitu banyak resolusi PBB, badan dunia itu tidak berani memberikan sanksi yang tegas. Mahkamah internasional juga tidak berani menyeret para pemimpin zionis sebagai penjahat perang atau penjahat kemanusiaan.

Yang lebih tragis adalah para pemimpin dunia Arab yang tergabung dalam Liga Arab, seperti Arab Saudi, Mesir, Yordania, Kuwait, dan sebagainya. Saat terorisme Zionis terjadi di depan matanya, para pemimpin Arab justru mengecam Hamas dan Hizbullah yang dianggap sebagai biang keladi agresi militer Israel. Maklumlah sejumlah negara Arab sangat tergantung pada bantuan militer dan ekonomi AS --sekutu Israel-- dan bahkan beberapa di antaranya telah menjalin hubungan diplomatik dengan negara penjajah itu.

Ketidakberdayaan dunia internasional, khususnya dunia Islam dan Arab, menghadapi terorisme zionis Israel, berakibat sangat fatal. Mesin teror zionis semakin ganas dan tidak tertutup kemungkinan akan memperluas area konfliknya di kawasan Timur Tengah. Kalau hal itu terjadi, masa depan perdamaian Timur Tengah akan semakin suram.

Ikhtisar
- Aksi terorisme yang dilakukan Zionis Israel telah merenggut puluhan ribu nyawa.
- Para pemimpin Zionis Israel menjadikan aksi terorisme sebagai strategi andalan karena dianggap efektif mengusir penduduk dari kampung halamannya.
- Meski melangkahi banyak aturan dunia, PBB menjadi mandul saat menghadapi Israel.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home