| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Sunday, August 06, 2006,12:28 PM

Hezbollah Tekuk Serangan Israel

AS-Perancis Sepakati Rancangan Resolusi DK PBB
Musthafa A Rahman

Beirut, Kompas - Pejuang Hezbollah, Sabtu (5/8) dini hari, berhasil menggagalkan upaya penerjunan pasukan komando Israel dekat kota Tirus, sekitar 80 kilometer arah selatan kota Beirut. Sedikitnya seorang serdadu Israel tewas dan tiga lainnya luka-luka dalam upaya penerjunan yang gagal itu.

Pasukan Pemerintah Lebanon yang berada di sekitar kota Tirus juga ikut menembakkan rudal anti-serangan udara ke arah helikopter Israel yang mencoba menerjunkan pasukan komandonya.

Sebelumnya, hingga Jumat malam, upaya pasukan darat Israel merangsek ke Lebanon juga mengalami kegagalan. Dalam pertempuran di berbagai tempat di Lebanon selatan, sedikitnya tiga tank Israel dihancurkan dan enam tentara Israel tewas.

Di Beirut, Jumat malam lalu, pesawat tempur Israel masih menggempur Distrik Beirut Selatan yang dihuni mayoritas Syiah. Namun, gempuran Israel Jumat malam lalu jauh lebih ringan dibandingkan dengan gempuran malam sebelumnya.

Warga Beirut masih bisa tidur lebih tenang pada Jumat malam, Adapun pada Kamis malam, Beirut seperti terguncang karena dahsyatnya gempuran Israel.

Hari Sabtu kemarin, suasana di Distrik Ashrafiyeh yang dihuni mayoritas Kristen sangat lengang. Seorang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beirut menuturkan, warga Arab Kristen juga banyak yang mengungsi ke luar negeri meskipun daerah mereka di Beirut relatif lebih aman dibandingkan dengan daerah lain.

Di pusat pertokoan Hamra, yang merupakan daerah Muslim Sunni, keramaian hanya terjadi mulai pukul 10.00 hingga 14.00. Setelah itu, jalanan mulai sepi hingga pagi.

Rudal Hezbollah

Pejuang Hezbollah Jumat malam lalu menembakkan rudal ke kota Hadera, sekitar 40 kilometer arah utara kota Tel Aviv. Hezbollah mengaku telah menggunakan rudal tipe Khaber I untuk menembak kota Hadera.

Serangan rudal Hezbollah ke kota Hadera merupakan serangan rudal terjauh sejak meletusnya perang terbuka Israel-Hezbollah pada 12 Juli.

Hal itu juga menunjukkan bahwa Sekjen Hezbollah Hassan Nasrallah mulai melaksanakan ancamannya melancarkan serangan rudal dengan sasaran lebih jauh dari kota Haifa.

Serangan rudal Hezbollah ke kota Hadera itu sebagai balasan atas aksi pembunuhan kedua Israel di Distrik Al Qaa—Lembah Bekaa hari Jumat lalu—yang menewaskan 33 warga sipil, sebagian besar adalah tenaga kerja asal Suriah.

Bendung Israel

Keberhasilan Hezbollah membendung gerak maju pasukan darat Israel hingga saat ini dikabarkan berkat rudal antitank milik Hezbollah yang sangat efektif.

Kegagalan gerak maju pasukan darat Israel itu membuat kemampuan pasukan Israel mencapai Sungai Litani, yang berjarak sekitar 20 km dari perbatasan Israel-Lebanon, diragukan.

Padahal, konsep Perdana Menteri Israel Ehud Olmert mensyaratkan Israel harus menguasai wilayah Lebanon selatan hingga Sungai Litani untuk mengurangi ancaman rudal Hezbollah atas kota-kota di Israel utara.

Kegagalan gerak maju pasukan darat Israel itu juga memberi dampak politik cukup serius, karena berlomba dengan upaya komunitas internasional mencapai kesepakatan gencatan senjata di forum Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).

Jika DK PBB mencapai kesepakatan gencatan senjata dalam waktu 48 jam mendatang, di saat gerak maju pasukan darat Israel masih gagal, misi politik dan militer Israel dalam perang ini akan mengalami gagal total.

Sebaliknya, Hezbollah bisa lebih menunjukkan kekuatan baik di dalam negeri Lebanon maupun internasional karena mampu mempertahankan kekuatan infrastruktur militernya hampir utuh meskipun telah dibombardir Israel selama lebih dari tiga pekan.

Peringatkan Sidon

Militer Israel hari Sabtu memperingatkan seluruh warga Sidon, kota terbesar di Lebanon selatan, untuk mengungsi menjelang rencana gempuran besar-besaran Israel ke wilayah yang dianggap menjadi tempat peluncuran roket-roket Hezbollah.

"Kami telah menyebarkan selebaran, memperingatkan warga untuk segera meninggalkan kota itu karena militer Israel akan menyerang tempat-tempat peluncuran roket Hezbollah di Sidon," kata juru bicara militer Israel.

Jumlah penduduk di kota Sidon normalnya 100.000 orang. Namun, jumlah tersebut kini meningkat drastis karena banyaknya pengungsi dari Lebanon selatan yang berlindung di kota itu.

Resolusi disepakati

Harian The New York Times (5/8) kemarin malam melaporkan, AS dan Perancis telah mencapai kesepakatan di DK PBB untuk menghentikan pertempuran di Lebanon dan menggelar rancangan untuk gencatan senjata permanen dan solusi politik jangka panjang.

Menurut pejabat Perancis yang tak bersedia disebutkan identitasnya, di bawah kesepakatan itu akan ada penghentian segera serangan pejuang Hezbollah, sementara Israel harus menghentikan seluruh operasi militernya.

Rancangan resolusi ini baru akan diungkap ke publik dalam pertemuan DK PBB Minggu ini. Pemungutan suara terhadap resolusi akan dilakukan 24 jam setelah introduksi formal resolusi.

Disebutkan juga, resolusi itu akan meminta pembentukan zona penyangga yang hanya bisa dijaga oleh Angkatan Bersenjata Lebanon dan pasukan perdamaian internasional dengan mandat PBB. Resolusi juga mengharuskan kedua pihak yang bertikai menghormati "garis biru" di perbatasan Israel dan Lebanon.

Resolusi ini merupakan gagasan Perancis, dan disepakati setelah negosiasi intensif selama sepekan antara AS-Perancis. (REUTERS/MYR)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home