| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Thursday, July 20, 2006,11:55 AM

Negeri Gempa dan Tsunami

Aloys Budi Purnomo

Trauma akibat tsunami di Aceh dan Nias belum pulih. Luka karena gempa di Yogyakarta dan sekitarnya masih menganga, bencana datang lagi.

Gempa dan tsunami terjadi di sebagian wilayah pantai selatan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Ratusan jiwa kembali melayang, yang lain luka-luka dan trauma. Harta musnah seketika!

Muncul beragam penafsiran atas berbagai bencana, dari yang bersifat mistik-mitologis hingga intelektif-ekologis. Bahkan, secara spiritual-religius ada yang menyebut, munculnya bencana karena kehendak Allah, padahal bukan! Ada yang menghubungkan bencana dengan kepemimpinan republik. Argumen ini rasanya terlalu mengada-ada dan irasional!

Negeri gempa-tsunami

Indonesia adalah negeri gempa dan tsunami. Sejak tahun 1992, gempa dan tsunami mendera Nusantara, "diawali" di Flores-NTT, gempa 7,5 skala Richter (SR) menewaskan 2.080 jiwa. Tahun 1994, gempa 6,8 SR di Banyuwangi, Jawa Timur, menewaskan 377 orang. Tahun 1996, gempa terjadi di dua tempat, di Toli-Toli, Sulawesi Tengah, dengan kekuatan 7,7 SR menewaskan sembilan orang dan di Biak, Irian Jaya, gempa 8,2 SR menewaskan 166 orang. Tahun 1998, gempa 7,7 SR menghantam Maluku Utara merenggut 30 jiwa. Tahun 2000 di Banggai, 50 orang tewas akibat gempa 7,3 SR (Litbang Suara Pembaruan, 18/7/2006).

Gempa dan tsunami paling hebat terjadi di Aceh dan Nias tahun 2004, menewaskan 250.000 jiwa. Kini, dua tahun setelah gempa dan tsunami di Aceh dan Nias, terjadi lagi gempa 6,8 SR dan tsunami di pantai selatan Jawa menewaskan lebih dari 400 jiwa. Gempa dan tsunami didahului gempa tektonik yang menimpa Yogyakarta dan Jawa Tengah, menewaskan sekurangnya 200.000 jiwa dan puluhan ribu rumah warga hancur rata tanah.

Berdasarkan data itu, terlihat gempa yang diikuti gelombang tsunami terjadi rata-rata dua tahun sekali, terhampar dari Sabang (Aceh) hingga Merauke (Irian Jaya). Maka, tidak berlebihan bila dikatakan negeri ini adalah negeri (rawan) gempa dan tsunami. Bahkan, gempa dan tsunami terjadi hampir secara berkala.

Betapa pun, tidak ada kata lain, kita yang hidup di negeri ini harus waspada bahwa gempa dan tsunami akan selalu terjadi. Maka, benar, masyarakat warga (civil society) perlu mendapat bekal cukup untuk mengenali isyarat alam dan tanda-tanda bakal terjadi tsunami. Dengan demikian, korban dapat ditekan sesedikit mungkin.

"Introspeksi ilmiah"

Dalam perjalanan dari Klender, Jakarta Timur, menuju Bandara Soekarno-Hatta (18/7/ 2006), Supendi, sopir taksi yang membawa saya, berkomentar, "Bencana demi bencana yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini mestinya membuat kita semua introspeksi dan rekonsiliasi!" Ketika ditanya, "Mengapa?" dengan polos ia menjawab, "Mungkin saja bencana demi bencana melanda karena kita banyak salah dan dosa!"

Sebagai rohaniwan, saya terkesima mendengar kepolosan dan otentisitas pernyataan Supendi. Yang dikatakan Supendi benar. Republik ini menanggung banyak salah dan dosa! Maka perlu introspeksi dan rekonsiliasi.

Introspeksi diri mungkin perlu fokus pada kenyataan, negeri ini merupakan negeri gempa dan tsunami. Sekurang-kurangnya, saya yang "awam" di bidang seismologi teknik dan tsunami Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mencoba peka menangkap tanda-tanda zaman, mengapa tiap dua tahun selalu terjadi gempa dan tsunami di berbagai wilayah negeri ini?

Secara ilmiah, hal ini seharusnya merangsang para pakar di bidangnya untuk introspeksi, lalu mencermati, mengapa hal itu terjadi dan bagaimana harus diantisipasi. Mencegah bencana dan tsunami jelas tidak mungkin. Namun, masih mungkin mengevaluasi dan mengevakuasi wilayah-wilayah yang terindikasi rawan gempa dan tsunami agar dalam radius tertentu tidak dihuni warga.

Mungkin baik, pemerintah mulai memikirkan kenyataan, beberapa wilayah negeri ini rawan gempa dan tsunami karena ada di atas pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Menurut ilmu gempa, gesekan kedua lempeng bumi ini, kabarnya yang paling aktif di dunia, membuat daerah itu menjadi amat labil.

Artinya, daerah itu akan selalu rawan gempa dan tsunami. Daerah bagian selatan Sumatera dan Jawa ada di atas pertemuan dua lempeng itu. Menurut penelitian para ahli gempa, daerah itu akan selalu diancam gempa besar.

Data ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah lalu disosialisasikan kepada masyarakat. Maka, sinergi kepekaan antara para ahli dan pemerintah perlu dijalin cermat agar bencana tidak selalu menimpa rakyat.

Lebih dari itu, inilah saatnya kita bersama waspada, berjaga-jaga, dan menyadari, negara kita adalah negara gempa. Artinya, antisipasi tanggap darurat, reservasi dana yang memadai, dan perlindungan terhadap warga di daerah gempa dan tsunami harus ditingkatkan.

Waspadalah, negara kita adalah negara gempa, labil, mudah pecah. Negeri ini adalah negeri tsunami, setiap saat rakyat harus siap mati.

Aloys Budi Purnomo
Rohaniwan; Pemimpin Redaksi Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, Semarang

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home