| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Tuesday, July 18, 2006,1:47 PM

Diikuti Penjalaran Gelombang Tsunami di Beberapa Daerah

Jakarta, Kompas - Pusat Gempa Nasional Badan Meteorologi dan Geofisika atau PGN BMG, Senin (17/7) malam menyatakan gempa bumi yang terjadi di kawasan pantai Pangandaran Jawa Barat pukul 15.19 berkekuatan 6,8 Skala Richter (SR), dengan pusat gempa tektonik pada kedalaman kurang dari 30 km di titik 9,4 Lintang Selatan, dan 107,2 Bujur Timur. Hingga pukul 19.00 semalam, telah terjadi sembilan gempa susulan yang getarannya makin berkurang.

Pusat gempa berada di sebelah selatan Pameungpeuk dengan jarak sekitar 100 hingga 150 km, dan merupakan zona pertemuan dua lempeng benua Indo-Australia dan Eurasia pada kedalaman kurang dari 30 km.

Gempa yang diikuti Tsunami, bersifat penjalaran gelombang laut, sedangkan getarannya menjalar melalui alur patahan yang arahnya menyerong ke Timur Laut, dengan arah ke Jawa Tengah melalui kawasan pantai Cilacap, dan pantai Kebumen di Jawa Tengah, serta Pantai Baron, di Kabupaten Gunung Kidul DIY.

Kepala PGN, Suharjono menjelaskan, selain menimbulkan korban jiwa, gempa ini dilaporkan menimbulkan tsunami di Pangandaran.

Sedangkan Kepala Sub Direktorat Mitigasi Bencana dan Pencemaran Lingkungan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Dr Subandono, menambahkan tsunami terjadi akibat gempa yang tergolong besar karena di atas 6 SR itu, terjadi pada lokasi yang dangkal atau di bawah 60 km dari dasar laut. Pusat gempa berada pada zona subduksi dengan patahan yang naik dan mengalami deformasi yang besar.

Sifat penjalaran energi

Karena jalur patahan sedikit menyerong mengarah ke timur laut, maka efek perambatan energinya lebih mengarah ke Jawa Tengah. Konsentrasi energi terjadi pada teluk dan tanjung yaitu Cilacap, Kebumen, hingga pantai selatan Yogyakarta antara lain Pantai Baron. Pantai Pangandaran yang terdekat dengan pusat gempa juga merupakan tanjung.

Gempa dengan kekuatan 6 hingga 7 SR dapat menjalar sejauh 50 hingga 100 km. Bila melihat ketinggian gelombang pasang 4 – 6 meter penjalaran gelombang mencapai 100 km, Sedangkan untuk ketinggian 10 hingga 15 m maka penjalarannya akan sejauh 200 km, jelas Subandono.

Menurut laporan yang diterimanya, di Kebumen ketinggian gelombang mencapai 10 meter. Sebelumnya air di tambak sempat surut.

Pertanda tsunami ini telah diketahui penduduk di sana yang segera mengungsi ke Purwokerto. Menurut data yang diperoleh Subandono tsunami pernah terjadi di Cilacap pada tahun 1907.

Diduga di kawasan selatan Jawa juga terjadi periodisasi kegempaan akibat subduksi lempeng. Saat ini penelitian di selatan Selat Sunda hingga selatan Jawa belum banyak dilakukan. Penelitian sejauh ini banyak dilakukan LIPI di barat Sumatera.

Sedangkan pakar geodesi dari Badan Koordinasi dan Survei Pemetaan Nasional, Dr Cecep Subarya kepada Kompas beberapa waktu lalu telah mengemukakan aktivitas seismik di selatan Pulau Jawa. Pergerakan subduksi lempeng Australia terhadap lempeng Eurasia di daerah ini, menurut Cecep. tergolong aktif yaitu 70 mm pertahun.

Menurut laporan yang diperoleh Cecep selaku Kepala Pusat Geomatika Bakosurtanal, beberapa jam sebelum gempa Pangandaran terjadi, gempa lain sudah mendahului terjadi di Pulau Enggano Provinsi Bengkulu (Pulau Sumatera) berkekuatan 5,3 SR, selanjutnya terjadi di dekat Pulau Christmas Australia, dan muncul kembali di Pangandaran dengan kekuatan 7,2 SR.

Akan ke lapangan

Untuk menganalisis pasca gempa Pangandaran, Tim GPS Bakosurtanal akan segera meninjau ke lapangan. Bulan lalu sebenarnya tim ini berencana memasang sistem GPS berupa tonggak-tonggak beton di Pangmengpeuk dan Gunung Salak Bogor, yang merupakan satu garis lurus dengan yang terdapat di Pulau Christmas. Tujuannya untuk mengetahui pelepasan energi seismik pada magnitudo 6 hingga 7 SR.

Tidak terekam

Menurut Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Dr Heri Harjono, sejarah kegempaan yang menimbulkan tsunami di Selatan Jawa tidak "terekam" secara alami, seperti halnya di pantai barat Sumatera.

Periode naik dan turunnya permukaan pesisir pantai barat Sumatera dalam periode ratusan tahun terekam pada terumbu karang yang hidup disana. Ketika gempa akibat sesar naik maka pesisir pantai akan naik. Maka terumbu karang yang naik ke permukaan akan mati.

Namun ketika pesisir itu tenngelam karena proses geologis turun, maka terumbu karang tersebut akan tumbuh kembali. Peristiwa inilah yang menyebabkan munculnya terumbu karang berbentuk topi.

Dengan mengetahui sejarah terjadinya gempa besar yang disertai tsunami berdasarkan catatan itu, penduduk paling tidak dapat mengantisipasi periode pengulangan, dan berwaspada pada bahaya itu.

Sedangkan di pesisir selatan Jawa tidak ditemukan koloni terumbu karang. Daerah ini memiliki topografi yang berbeda, tidak ditemukan jajaran kepulauan dan perairan yang dangkal diantaranya. Padahal perairan dangkal memungkinkan tumbuhnya terumbu karang.

Karena itu untuk penelitian tsunami di Jawa, LIPI tahun lalu telah merencanakan untuk melakukan studi paleotsunami, yaitu meneliti lapisan batuan di dekat pantai untuk melihat adanya endapan pasir atau material dari laut yang dibawa ke darat oleh gelombang pasang pada masa lalu.

Sejarah kegempaan dan tsunami di Jawa pernah dilaporkan Fisher, peneliti dari Belanda pada tahun 1920an. Laporannya antara lain menyebutkan daerah Pacitan pernah dilanda tsunami.

Diketahui tipe tsunami yang terjadi di Blok Jawa sama dengan yang terjadi di Sumatera hingga Nusa Tenggara, yaitu akibat sesar lempeng naik, disebut juga tipe penujaman atau subduksi. (YUN)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home