| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Wednesday, July 19, 2006,10:03 AM

G-8, Sindikat Penguasa Global

Imam Cahyono

"If the G-8 did not exist, would anyone want to invent it?" (Denis MacShane)

Kota tua St Petersburg tiba-tiba berubah drastis. Pertemuan G-8 seperti kekuatan ajaib, menyulap ibu kota para tsar Rusia menjadi bersih, rapi, dan sepi.

Gelandangan direlokasi. Pengelola toko di sepanjang rute yang dilewati iring-iringan mobil tamu negara diharuskan membeli dan memajang pot bunga. Ribuan kios minuman dan rokok yang berserak telah ditertibkan, digusur tanpa kompensasi.

Pertemuan G-8, 15-17 Juli, sepi dari aksi demonstrasi. Pemerintah menggunakan tangan besi terhadap para aktivis. Hal-hal yang tak sedap dipandang mata tidak akan ditemui delegasi dan kamera televisi. Inilah komitmen Rusia dan Vladimir Putin sebagai tuan rumah dan ketua G-8.

Kepentingan sempit

Setiap pertemuan tahunan G-8 selalu mengundang pertanyaan, apakah meningkatkan kepercayaan atau justru menebar kecurigaan masyarakat dunia.

Groups of 8 tak lain kelompok negara industri maju beranggotakan Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Kanada, dan Rusia.

Mereka adalah segelintir elite pemegang kendali struktur kekuasaan dunia (the world’s most powerful leader) dari sektor ekonomi, energi, dan militer. Kelompok ini menguasai 49 persen dari total ekspor global, 51 persen industri, dan 49 persen aset di International Monetary Fund (IMF).

G-8 tidak memiliki sistem administrasi transnasional seperti trio raksasa finansial global (the unholy trinity) yakni World Bank, IMF, dan WTO, tetapi memiliki kekuatan pressure amat kuat.

Forum informal antarkepala negara ini dibentuk karena alasan ekonomi politik akibat krisis minyak dan resesi global. Kongsi tidak resmi ini bukan organisasi internasional, serta tidak bersandar pada pakta internasional. Keputusan dan kebijakan diformulasikan sebagai komitmen politik negara anggota.

Dalam praktiknya, secara tidak resmi ia telah menjadi pemerintah dunia (unofficial world government). Belakangan, mereka aktif merespons tantangan global seperti isu pemanasan global, kemiskinan, keamanan global, teroris, dan senjata pemusnah massal. Mereka berkoar-koar tentang pentingnya ekologi, demokrasi, hukum, HAM, dan kebebasan.

Setiap pertemuan G-8 tak pernah lepas dari kritik dan kontroversi, terkait seputar isu global. Kendati berhasil mereduksi prasangka di antara negara kaya, pertemuan itu senantiasa mengundang kecurigaan masyarakat dunia. Pertemuan G-8 sebelumnya diwarnai protes oleh para aktivis antiglobalisasi yang memicu aksi kekerasan dari Genoa, Italia, hingga Evian, Perancis.

Prestasi mereka pun terbilang jeblok. Jangankan meyakinkan warga dunia dalam meningkatkan keamanan ekonomi dan stabilitas politik, negara-negara raksasa ekonomi tidak mampu menghadapi persoalan besar di rumahnya sendiri. G-8 akhirnya menjadi simbol sekelompok kecil penguasa yang tidak mampu menjawab tantangan yang dihadapi dunia.

Global threats require global responses, tulis Presiden Jacques Chirac dalam artikel (the Christian Science Monitor, 14/7/2006). Padahal, untuk mengatasi pengangguran, Perancis kedodoran.

Gelombang imigrasi dari Amerika Latin pun mengancam AS. Tetapi mereka tidak dihiraukan. Janji dan program yang dilontarkan para penguasa dunia hanya slogan kosong dan hipokrisi. Negara-negara kaya lebih sibuk mengurusi kepentingan pribadi.

Mereka enggan memperjuangkan sistem perdagangan yang fair, meningkatkan investasi Utara-Selatan sehingga negara-negara miskin tidak memiliki alasan berimigrasi. Mereka senantiasa menutup mata terhadap proteksi, subsidi, dan blokade perdagangan AS, Jepang, dan Eropa.

Dengan program penyesuaian struktural ala IMF, justru menjadi penyebab kemiskinan masif mayoritas masyarakat. Kebijakan yang ditelurkan tidak menyediakan solusi bagi krisis masyarakat, tetapi justru kian memperburuk keadaan.

Salah satu alasan keberadaan G-8 adalah mempertahankan keterbukaan wawasan, kawasan, dan perdagangan bebas. Tetapi citra G-8 senantiasa menampilkan sifat eksklusif dan proteksionis. Setiap pertemuan G-8 dijaga ketat dan diblokir pasukan antihuru-hara.

Komitmen politik mereka pun rendah untuk mewujudkan tatanan dunia yang lebih baik dan adil. Maka tidak mengherankan jika pertemuan di Rusia ini juga tidak akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, hanya memihak kepentingan negara kaya belaka. Pertemuan itu tak ubahnya ajang transaksi komoditas dan kepentingan politik semata.

Masa depan suram

Masa depan dunia tergantung kepada para pemimpinnya. Tatanan dunia juga tak bisa dilepaskan dari sistem yang digunakan. Selama ini jurang ketimpangan dengan konsentrasi kekuasaan pada segelintir elite penguasa tak pernah berubah. Tidak ada redistribusi sumber daya, komitmen moral untuk membela mereka yang lemah sebagai tanggung jawab bersama. Akibatnya, negara berkembang tetap dihantui wabah penyakit, utang, dan kemiskinan tak berkesudahan. Sejak G-6 berubah menjadi G-7 dan kemudian G-8 pun tidak menunjukkan itikad untuk memperjuangkan dunia agar menjadi lebih baik.

Menyimak pertemuan G-8, saya seperti menyaksikan film laga besutan sutradara Hollywood, menonton Al Pacino sebagai gembong Mafia (The Godfather), atau kehebatan aksi Yakuza, koboi Texas, atau gangster di Las Vegas. Tanpa segan, nyawa dipertaruhkan demi harta, takhta, dan wanita. Syahwat kekuasaan membuat mereka tega menggunakan segala cara, bahkan mengorbankan yang tak bersalah sekalipun. Yang lemah disikat. Yang menghadang ditendang. G-8 kian bertambah lengkap ditambah gangster dan triad, terutama jika raksasa Asia yakni China dan India turut bergabung.

Banyak orang menyukai film laga atau kagum dengan Cow Yun Fat. Tetapi siapa yang mau menonton aksi laga ala G-8, menyaksikan para big boss berkumpul dan keesokan harinya bermunculan eksploitasi, penindasan, dan ketidakadilan di mana- mana? Bukan sekadar nonton film, tetapi menyaksikan kebrutalan dengan mata telanjang? Tentu, tak satu pun yang bakal menginginkan.

Imam Cahyono
Peneliti, Menekuni Studi Globalisasi

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home