| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Monday, July 24, 2006,11:52 AM

Eropa Upayakan Perdamaian, AS Malah Mendorong Israel

Cairo, minggu - Menjelang minggu ketiga serangan Israel atas Lebanon, negara-negara Eropa mulai mengambil sikap yang berbeda dari Amerika Serikat. Perancis dan Jerman turun langsung mengupayakan penghentian kekerasan. Inggris pun mulai memperingatkan Israel dengan lebih keras.

Sementara AS terus mendorong Israel untuk melakukan penyerangan ke Lebanon dengan alasan untuk melumpuhkan kekuatan Hezbollah. Seruan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan untuk dilakukan gencatan senjata juga diabaikan kedua negara itu.

Keseriusan upaya Eropa untuk segera menghentikan kekerasan di Timur Tengah yang cenderung dibiarkan saja oleh AS itu tercermin dari kunjungan Menteri Luar Negeri (Menlu) Perancis Philippe Douste-Blazy dan Menlu Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Timur Tengah, termasuk Beirut. Inggris bahkan telah lebih dulu mengirim Wakil Menlu Muda Kim Howells ke Lebanon.

Meski dengan agenda yang sedikit berbeda, kedua menlu Eropa itu menyatakan prihatin dengan krisis Israel-Lebanon yang akan memasuki pekan ketiga.

Uni Eropa juga akan menggelar Konferensi Timur Tengah di Roma, Rabu (26/7), yang akan melibatkan negara-negara kunci dari kawasan Timur Tengah dan juga Menlu AS. Konferensi itu difokuskan untuk meraih kesepakatan politik bagi gencatan senjata Lebanon-Israel.

Pertukaran tahanan

Dalam pertemuan dengan Menlu Mesir Ahmed Aboul Gheit, Sabtu lalu di Cairo, Douste-Blazy menyerukan gencatan senjata segera untuk menghentikan eskalasi kekerasan antara Israel dan Lebanon serta mengusulkan pertukaran tahanan sebagai salah satu cara untuk mengakhiri krisis.

Komentarnya itu disampaikan menjawab pernyataan Menlu AS Condoleezza Rice, sehari sebelumnya, yang justru menyampingkan kemungkinan gencatan senjata segera. "Kita harus bekerja cepat dan sangat cepat untuk gencatan senjata. Ada juga beberapa isu lain, seperti pertukaran tahanan dan pengiriman tentara Lebanon ke perbatasan Lebanon-Israel," ujar Menlu Perancis.

Pihak Hezbollah sebelumnya pernah mengatakan setuju untuk melakukan gencatan senjata jika hal itu mengarah ke pertukaran tahanan. Akan tetapi, Israel telah menegaskan bahwa mereka ingin menghancurkan tempat-tempat persembunyian, gudang-gudang senjata, dan terowongan-terowongan bawah tanah Hezbollah yang berada di selatan Lebanon sebagai upaya untuk melucuti persenjataan kelompok itu.

Dalam pertemuan kedua Menlu, Perancis dan Mesir mengatakan akan bekerja sama untuk meloloskan sebuah resolusi PBB untuk mengakhiri kekerasan di Lebanon-Israel. Menlu Perancis itu menekankan perlunya sebuah "koridor aman" bagi ratusan ribu rakyat Lebanon yang mencari bantuan kemanusiaan.

Seusai bertemu Menlu Mesir, Douste-Blazy melakukan pembicaraan dengan Raja Jordania Abdullah di Amman. Raja Abdullah pun mendesak dilakukannya gencatan senjata segera untuk memungkinkan upaya-upaya diplomatik bekerja agar krisis itu tidak menyebar ke kawasan.

Dalam kunjungan ke Beirut, Sabtu pekan lalu, Menlu Muda Inggris secara terbuka mengkritik taktik yang digunakan Israel. Pandangan Howells itu sempat mengejutkan sejumlah kalangan karena sangat berbeda dengan pandangan Perdana Menteri Tony Blair yang lagi-lagi sealiran dengan Bush, yang tidak mengecam Israel dan lebih menyalahkan Hezbollah atas krisis yang terjadi di Lebanon.

Howells menyanggah klaim Israel mengenai pembombardiran yang dilakukannya, yang ditujukan terhadap sasaran-sasaran Hezbollah. "Sulit untuk memahami bentuk taktik militer yang tengah dipakai. Jika mereka mengejar Hezbollah, kejarlah Hezbollah. Anda tidak boleh menghancurkan seluruh bangsa Lebanon," ujarnya kepada para wartawan di Beirut.

Ia mengatakan, Israel menghancurkan infrastruktur Lebanon dan membunuh sejumlah orang. "Saya sangat banyak berharap bahwa rakyat Amerika mengerti apa yang terjadi dengan Lebanon. Kehancuran infrastruktur, kematian begitu banyak anak-anak dan begitu banyak orang. Ini bukan sebuah serangan terarah," katanya.

Di Inggris, apa yang diungkapkan Howells itu belum disuarakan oleh Menlu Margaret Beckett maupun Perdana Menteri Tony Blair. Akan tetapi, Howells mendapat dukungan dari sejumlah anggota parlemen, yang kini mulai banyak mengkritik Blair karena sikap lemahnya terhadap Israel.

Perluasan krisis

Berbeda dengan Perancis, Menlu Jerman dalam pertemuan dengan Menlu Mesir menyampaikan bahwa Jerman akan bekerja untuk mencegah perluasan krisis Lebanon-Israel ke wilayah lainnya di Timur Tengah, tetapi tak akan mengupayakan gencatan senjata segera.

Steinmeier memperingatkan konfrontasi yang terjadi saat ini cenderung akan meluas, dengan melibatkan pihak-pihak lainnya. Namun, ia tidak mengelaborasi lebih jauh pihak-pihak mana yang ikut terlibat dalam konflik Israel- Lebanon itu.

Jika sebelumnya Israel bersikeras menolak kehadiran pasukan multinasional di perbatasan Lebanon-Israel, kemarin Menteri Pertahanan Amir Peretz menyatakan bahwa Israel bersedia menerima pengiriman pasukan penjaga perdamaian di selatan Lebanon. Meski demikian, dia meminta agar pasukan itu dipimpin oleh Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Hal itu juga disampaikan Peretz dalam pertemuan dengan Menlu Jerman. Namun, dia tidak memberi kerangka waktunya.

Sejauh ini belum ada tanggapan atas pernyataan Peretz itu dari pihak AS yang selama ini justru lebih banyak menegaskan perlunya "menghabisi" Hezbollah untuk selama-lamanya setelah beberapa kali upaya yang dilakukan tidak membuahkan hasil. (AP/Reuters/OKI)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home