| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Thursday, June 01, 2006,11:39 AM

Pancasila dan "Mancapat Kalima Pancer"

Jakob Sumardjo

Pancasila itu berfilosofi harmoni, bukan dominasi. Pancasila adalah Kerukunan Nasional dan Kerukunan Dunia.

Harmoni menyelaraskan yang berbeda-beda dan bertentangan sifat-sifatnya dalam hidup rukun, damai, dan produktif dalam Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pancasila adalah mancapat kalima pancer, empat kiblat (kuaternitas) yang memusat (sentripetal) dan menyebar (sentrifugal) ke satu pusat, Ketuhanan Yang Maha Esa, kualitas transenden di tengah manusia Indonesia. Karena itu, Pancasila dimulai dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, menandakan kehadiran Yang Esa pada manusia yang beragam. Di mana ada yang esa, di situ ada harmoni.

Ketuhanan Yang Maha Esa adalah pusat, pancer. Dan pancer itu suci. Dibaca secara sentrifugal (menyebar), yang suci menyebar ke seluruh manusia dalam bentuk berkat, hadir dalam dunia perbedaan manusia sehingga dalam Tuhan Yang Maha Esa hadir kerukunan, saling mencintai, tak ada perseteruan maupun saling membinasakan. Berkembangnya kerukunan, saling menghargai, saling menghidupi, pertanda hadirnya Pancasila.

Secara sentripetal (memusat) semua perbedaan diharmonikan, dirukunkan, didamaikan, dalam gerak naik (ascend) yang dilakukan oleh manusia sendiri.

Keterikatan sosial

Kuaternitas mancapat (empat kiblat) adalah pasangan perbedaan yang sifatnya saling berseberangan. Sebagai individu, manusia itu bebas. Tetapi, dalam hidup bersama, manusia tidak bebas, ada keterikatan sosial.

Kebebasan individu dan keterikatan sosial, kebebasan kelompok dan keterikatan nasional, kebebasan berbangsa dan keterikatan internasional merupakan pasangan realitas. Begitulah hidup sejak ada manusia di Bumi. Kebebasan semau gue akan merusak hidup bersama, sebaliknya pengungkungan sosial akan merusak kebebasan individu. Dalam sejarah Indonesia, hal ini berulang kali terjadi. Mengapa? Karena mereka melupakan pancer, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Hampir semua agama mengajarkan kebijaksanaan transenden itu, lakukan apa yang orang lain ingin lakukan padamu. Jangan lakukan yang orang lain tidak ingin lakukan padamu. Jangan memfitnah jika kamu sendiri tidak mau difitnah. Subyek menempatkan diri sebagai obyek. Ada timbang rasa. Tepo sliro.

Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa selalu transenden. Ia bukan dari dunia, bukan dari cara berpikir manusia biasa. Dan, agama- agama mengajarkan bagaimana menekan egosentrisme manusia, yakni dengan peduli, memahami, menerima, dan menghargai orang lain. Jika egosentrisme dibiarkan, yang terjadi adalah pertikaian kepentingan, berakhir dengan melenyapkan orang lain.

Menyadari dirinya paling benar itu baik, tetapi orang lain juga demikian. Menghargai kebenaran yang lain tidak berarti mengurangi kebenarannya sendiri. Jika egosentrisme dibiarkan, pembinasaan demi pembinasaan akan terjadi.

Pancer, nilai-nilai transenden menyatukan aneka perbedaan karena perbedaan tidak dilihat sebagai lawan, tetapi sebagai saudara. Perbedaan dalam keluarga dapat disatukan karena saudara sedaging. Perbedaan antargolongan dapat disatukan karena satu bangsa. Perbedaan antara bangsa-bangsa disatukan karena satu umat manusia. Kita semua makhluk Tuhan yang diciptakan berbeda-beda. Perbedaan adalah kodrat manusia. Penyeragaman melawan kodrat. Keseragaman manusia ada di wilayah transenden, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Empat kiblat oposisi segala hal, keempat sila yang berseberangan, adalah realitas yang harus diterima. Kebebasan individu, egosentrisme manusia, "kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan/perwakilan", demokrasi, beroposisi dengan "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia", keterikatan sosial, hidup bersama sebagai bangsa. Analog dengan itu adalah kebebasan individu-bangsa, persatuan Indonesia, beroposisi dengan internasionalisme, bangsa-bangsa di dunia, "kemanusiaan yang adil dan beradab".

Bangunan pikiran

Pancasila adalah sebuah bangunan pikiran yang berhubungan satu dengan yang lain, bukan gado-gado pikiran yang bertabrakan lalu akur-akuran. Pancasila juga bukan ajaran, apalagi dogma, tetapi sikap yang disetujui bersama. Sikap bersama ini mengatasi perbedaan golongan, suku, ras, dan agama. Sikap demikian sudah ada sejak masa purba. Untuk memahami "filosofi" ini, Pancasila harus dikembalikan pada sejarah budaya bangsa, bukan ditafsirkan berdasar pikiran luar.

Sikap pancasilais, mancapat kalima pancer, harmoni oposisi- oposisi, telah jalan berabad-abad di Indonesia secara membisu, implisit. Tidak pernah terjadi pertempuran antarsuku, antar-agama, antarras di Indonesia yang melibatkan massa. Kasus-kasus memang terjadi, tetapi bukan gejala budaya. Mengapa semua itu terjadi justru saat Pancasila dimaklumkan secara eksplisit? Pancasila tidak dibaca secara Indonesia.

Pancasila itu ada di atas aneka perubahan. Sikap Pancasila adalah eling dan waspodo, selalu cepat tanggap. Pancasila adalah sikap kreatif. Solusi Pancasila berbeda-beda untuk masalah yang sama dalam zaman yang berbeda.

Metode Pancasila tahun 1945 tentu berbeda dengan Pancasila tahun 2005 karena ada perubahan-perubahan yang harus diterima. Perubahan adalah keniscayaan. Menempatkan Pancasila sebagai dogma berarti mengingkari diri sendiri. Pancasila tidak berubah sepanjang menyangkut sikap harmoni-rukun. Pasangan- pasangan oposisi dilihat sebagai kawan, saudara sebangsa, saudara seumat manusia.

Antitesis Pancasila adalah bahwa dunia dan manusia tidak berubah sejak munculnya dogma. Perbedaan bukan hanya bersifat ruang, tetapi juga waktu. Perubahan itu sendiri adalah waktu. Apakah Indonesia tidak berubah karena Pancasila dijadikan dogma? Apakah Indonesia akan berubah tanpa Pancasila? Apakah Indonesia akan berubah sesuai sikap Pancasila?

Jakob Sumardjo Esais

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home