| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Wednesday, May 31, 2006,1:06 PM

Aliran Modal Swasta ke Negara Berkembang Besar

Jakarta, kompas - Aliran modal swasta bersih atau neto ke negara-negara berkembang pada tahun 2005 mencapai rekor tertinggi, yakni 491 miliar dollar AS. Aliran modal itu didorong oleh privatisasi, penggabungan usaha, akuisisi, penjadwalan kembali utang luar negeri, serta penerbitan obligasi dalam mata uang lokal di Asia dan Amerika Latin.

Demikian laporan Keuangan Pembangunan Global 2006 oleh Bank Dunia, yang dirilis Selasa (30/5) di Tokyo, Jepang.

Kepala Ekonom Bank Dunia dan Wakil Presiden Senior untuk Ekonomi Pembangunan Francois Bourguignon mengatakan, peningkatan aliran modal ini mencerminkan kepercayaan yang lebih besar terhadap prospek ekonomi beberapa negara berkembang. Sebab, peningkatan tajam aliran modal swasta ke negara berkembang tetap terjadi meskipun ada keraguan karena harga minyak yang melambung tinggi, peningkatan suku bunga secara global, juga ketimpangan pembayaran global.

Peningkatan dalam aliran modal juga mencerminkan aliran perdagangan yang meningkat dan integrasi keuangan di antara negara-negara berkembang.

Dalam laporan tersebut dinyatakan, aliran modal secara signifikan lebih banyak terjadi antarnegara berkembang (aliran selatan-selatan) daripada antara negara maju dan negara berkembang (aliran utara-selatan).

Perdagangan selatan-selatan meningkat dari 222 miliar dollar AS pada tahun 1995 menjadi 562 miliar dollar AS pada tahun 2004. Investasi asing langsung (FDI) selatan-selatan juga meningkat dari 14 miliar dollar AS pada tahun 2005 menjadi 47 miliar pada tahun 2003.

"Aliran antarnegara berkembang itu berpotensi mengubah wujud keuangan pembangunan global, terutama jika pertumbuhan di negara berkembang dapat melampaui negara maju," kata Mansoor Dailami, penulis utama laporan Keuangan Pembangunan Global 2006.

Ia mengatakan, sebagian besar FDI selatan-selatan tersebut berasal dari perusahaan di negara- negara berpenghasilan sedang, yang kemudian ditanamkan dalam wilayah atau benua yang sama. Misalnya, perusahaan-perusahaan Rusia dan Hongaria menanamkan modalnya di Eropa Timur dan Asia Tengah. Untuk FDI dari China diperkirakan mengalir ke proyek-proyek sumber daya alam di Amerika Latin.

Di tengah-tengah tren yang menjanjikan berupa aliran modal ke negara-negara berkembang, kesenjangan dalam akses kredit internasional tetap terjadi.

Ada kelompok negara yang melakukan emisi obligasi secara teratur sejak tahun 2002 sehingga mudah mendapat akses. Ada juga kelompok yang memiliki akses ke pinjaman perbankan karena memiliki aliran pemasukan yang telah diatur dengan baik, seperti ekspor, industri pengiriman uang, dan industri lain. Kelompok lainnya, negara-negara berpenghasilan rendah, tak memiliki akses ke modal swasta, kecuali keuangan perdagangan jangka pendek dan tergantung pada pembiayaan resmi untuk keperluan modal jangka panjangnya.

Sementara itu, aliran utang swasta ke negara-negara berkembang meningkat dari 85 miliar dollar AS pada tahun 2003 menjadi sekitar 192 miliar dollar AS pada 2005. Ini didorong banyaknya likuiditas global, peningkatan kualitas kredit negara berkembang, hasil lebih rendah dari negara-negara kaya, serta ekspansi ketertarikan penanam modal dalam aset pasar yang baru. (TAV)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home