| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Wednesday, June 21, 2006,12:17 PM

Benturan Peradaban Bukan Takdir

Abdullah Ahmad Badawi
Ketua Umum Organisasi Konferensi Islam (OKI)

Pada tahun 1993 lalu, dalam sebuah esainya yang kontroversial, Samuel Huntington memprediksi poros konflik di masa mendatang akan bersumber dari agama dan budaya. Poros baru itu akan dimulai pada akhir Perang Dingin. Huntington menyatakan benturan antarperadaban akan menggantikan konflik politik dan ideologi selama Perang Dingin, serta menjadi awal krisis baru.

Setelah serangan 11 September terhadap Menara Kembar di New York, seakan membenarkan ramalan Huntington. Apalagi, beberapa saat Amerika Serikat menginvasi Afghanistan. Koalisi Barat juga menginvasi Irak pada tahun 2003. Kemudian, pada awal tahun 2006, beberapa surat kabar di Eropa memicu 'krisis karikatur'.

Tapi, benarkah ini merupakan permulaan dari apa yang dipercayai sebagai benturan antarperadaban Islam dan Barat/Kristen yang tak terelakkan? Apakah ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dibalikkan lagi? Saya percaya bahwa bahwa jawabannya adalah ''tidak''.

Saya percaya bahwa kerusakan yang terjadi di dunia ini adalah karena perbuatan tangan manusia, bukan takdir. Karena itu, menjadi tugas setiap orang yang mempunyai keinginan baik untuk menghentikan memburuknya hubungan Islam dan Barat. Benturan antara kedua peradaban besar ini bukan sesuatu yang tak terelakkan dan tak bisa dibalikkan.

Peran media
Media-media internasional yang sadar atau tidak, ikut bertangung jawab. Karena provit dan rating, media menampilkan hal-hal sensasional yang kemudian seolah menjadi kebenaran. Ekstremisme, kekerasan, dan darah telah menjadi berita-berita utama di seluruh dunia.

Para teroris telah memplot media untuk menampilkan kekejaman dan mendapat perhatian seluas mungkin. Dan hal ini kemudian menciptakan salah persepsi tentang Islam di Barat. Seolah-olah Islam diwakili oleh nilai-nilai ekstrem. Alqaidah telah secara keliru dianggap sebagai juru bicara sebagian besar umat Islam.

Media harus membenahi situasi ini dan membantu tampilnya suara moderat dan toleran. Dialog dan saling pengertian antarperadaban yang harus mendapat tempat yang layak. Media-media internasional harus mengetahui bahwa pada kedua peradaban tersebut tersebut ada orang-orang yang sungguh-sungguh berkeinginan baik, menjadi fasilitator dan komunikator untuk membangun 'jembatan' antarbudaya dan agama di dunia.

Saya memohon media-media internasional memainkan peranan mereka dalam menyampaikan suara-suara rekonsiliasi yang mendekatkan kedua peradaban, serta menyaring suara-suara kebencian dan ekstremisme. Kebebasan pers harus dimanfaatkan untuk kebaikan umat manusia dan mencegahnya dari penyalahgunaan oleh musuh-musuh umat manusia.

Sebagai Muslim, kita juga harus mengambil bagian dalam memulihkan keretakan di antara ummah melalui kata dan perbuatan, bahwa Islam adalah agama moderat yang menolak ekstremisme, fanatisme, terutama terorisme. Kita harus memerangi penyimpangan ideologi, membangun pendidikan yang memperkuat nilai-nilai pengertian, toleransi, dialog, dan multilateralisme sesuai ajaran Islam.

Ada saatnya umat Islam unggul dalam berbagai bidang, mulai politik, filsafat, militer, sains, seni, dan perdagangan. Sejarah kita memang sangat kontras dengan keadaan saat ini, di mana umat Islam terpuruk dalam kemiskinan. Sekitar 50 persen populasi umat Islam di negara-negara Islam hidup dengan kurang dari dua dolar per hari. Kemiskinan itu telah menciptakan problem lain seperti kekurangan gizi, penyakit, dan kejahatan.

Lingkaran setan ini harus dipecahkan. Kita tidak bisa mengharapkan orang lain memimpin kita untuk melakukannya. Adalah tugas dari negara-negara Islam untuk saling menolong dan berbagi kemakmuran, bukan berbagi kemiskinan.

Harus bersatu
Umat Islam harus bersatu. Sebagai langkah awal, kita harus menyelesaikan berbagai konflik sektarian yang memecah-belah kita. Pada saat yang sama, kita harus menolak pembunuhan orang-orang tak berdosa, penindasan dan eksploitasi sesama, korupsi dan kerakusan, serta nasionalisme sempit dan mementingkan golongan sendiri.

Muslim yang benar adalah mereka yang menegakkan keadilan, melawan tirani, mengupayakan kebebasan dari ketertindasan, terhormat dan jujur, serta orang-orang universal dan inklusif dalam kata dan perbuatan. Muslim yang benar adalah mereka yang juga melindungi kemanusiaan, menghargai kehormatan wanita dan kesejahteraan anak-anak, memelihara integritas keluarga, membantu orang-orang yang kelaparan, dan hidup harmonis bersama lingkungan.

Muslim di manapun yang berusaha hidup berdasarkan ajaran Islam, mempraktikkan moderasi, dan nilai-nilai universal dalam Alquran, adalah orang-orang Islam yang sungguh-sungguh merupakan pemenang. Kita, Muslim, harus mendemonstrasikan dalam teori maupun praktik bahwa Islam tidaklah berlawanan dengan modernitas dan tidak bertentangan secara antagonis terhadap Barat. Tapi Muslim juga seharusnya sadar bahwa mereka tetap bisa menjadi modern tanpa perlu menjadi Barat. Muslim perlu melakukan modernisasi, bukan westernisasi.

Orang-orang Muslim yang modern adalah mereka yang bisa mengharmonisasi ajaran Islam yang bersumber dari wahyu dan tradisi Nabi di satu tangan, sementara tangan yang lain menggenggam ilmu pengetahuan. Inilah adalah ucapan dari cendekiawan Muslim, Muhammad Abduh (1849-1905), yang kembali saya ulangi untuk kebaikan kita bersama.

Saya ingin menceritakan pengalaman negara saya untuk mengilustrasikan betapa Islam tidaklah bertentangan dengan kemajuan, modernitas, maupun praktik demokrasi. Pemerintah Malaysia telah memilih terminologi Islam Hadhari untuk menggambarkan kumpulan prinsip-prinsip yang kami anut, dengan menjadikan agama sebagai prinsip intinya.

Hal ini tidak secara khusus berhubungan dengan apakah Malaysia adalah sebuah negara yang terdiri atas berbagai macam ras dan agama, yang 33 persen dari 20 juta penduduknya adalah Muslim. Islam Hadhari adalah pendekatan komprehensif untuk pembangunan manusia, masyarakat, dan negara berbasis ajaran dan peradaban Islam. Sebagai sebuah pendekatan, kami merasa setiap orang bisa nyaman terhadap Islam Hadhari, karena dia mewujudkan prinsip-prinsip universal yang sudah lazim dan bisa diterima.

Ada 10 prinsip pendekatan Islam Hadhari, yaitu keimanan dan kesalehan kepada Allah; pemerintahan yang adil dan bisa dipercaya; kebebasan dan independensi rakyat; mencari ilmu pengetahuan dengan penuh semangat dan menguasainya; pembangunan ekonomi yang berimbang dan menyeluruh; kualitas hidup rakyat yang baik; perlindungan terhadap hak-hak minoritas dan kaum perempuan; integritas moral dan budaya; penyelamatan atas sumberdaya alam dan lingkungan; dan berusaha keras menjaga kapabilitas.

Meskipun Muslim adalah mayoritas di Malaysia, negeri kami menerapkan pembagian kekuasaan politik di antara berbagai etnis yang memeluk berbagai agama dan kepercayaan. Partai berkuasa adalah sebuah koalisi besar dari 14 partai politik. Ketidakadilan ekonomi telah diminimalkan dengan strategi afirmatif. Harmoni kehidupan beragama dan beribadah juga dijamin konstitusi.

Islam Hadhari adalah untuk kebaikan seluruh rakyat Malaysia, baik Islam maupun non-Islam. Di level nasional, yang dilakukan adalah membangun komunitas yang modern dan demokratis berdasarkan nilai-nilai Islam. Di level internasional, Islam Hadhari adalah cara Malaysia untuk menunjukkan dengan fakta bahwa ajaran yang sangat toleran dan menjaga agama dan budaya.

Islam Hadhari bukanlah agama baru, bukan mazhab baru, juga bukan aturan agama baru. Islam Hadhari bukanlah sebuah usaha untuk mencari pendekatan baru tentang Islam yang lebih bersahabat dan lemah-lembut. Sepuluh prinsip fundamental Islam Hadhari dimaksudkan untuk memanifestasikan peran sentral Islam dalam kehidupan sehari-hari penganutnya, dan sebagai pedoman untuk mengapresiasi dan mempraktikkan keimanan dalam zaman modern ini, Insya Allah.

Dialog antara Islam dan Barat tak akan berhasil bila tidak diikuti aksi-aksi nyata. Dialog antara Islam dan Barat tidak hanya harus melahirkan saling pengertian, tapi juga harus berani membenarkan yang salah. Hal itu bisa bermakna mereview sejumlah kebijakan domestik yang tidak adil dan pada level global mereview kebijakan yang menyebabkan ketidakadilan terhadap orang atau negara lain.

Kedua belah pihak harus berhenti menampilkan pandangan hidupnya untuk melegitimasi kekutan politik tertentu. Hal yang paling utama diubah adalah dominasi politik, yang kadang berselubung modernisasi dan demokratisasi. Saya khawatir, bila ini yang terjadi, itu hanyalah usaha meneguhkan modernitas dan demokratisasi dalam standar nilai-nilai Barat.

Saya berharap para pemimpin Barat bisa merenungkan secara mendalam tentang apa yang mereka ingin selesaikan dalam dialog bersama para pemimpin Dunia Islam. Untuk mencapai dialog yang memberi hasil memuaskan, mestinya Barat tak hanya memandang Islam sebagai agama, tapi juga sekaligus sebagai sebuah peradaban, entitas kultural, dan pandangan hidup. Dialog akan berhasil jika ada saling menghargai, kesamaan, dan timbal-balik.

Kita harus menghentikan pendudukan atas nama perang melawan terorisme. Kita jangan menggunakan perintah agama sebagai selubung untuk desain politik dan strategi. Komunitas Internasional harus membantu memecahkan problem Palestina. Di Irak, harus ada gencatan senjata yang tuntas dan tentara asing harus meninggalkan negara itu. Di Afghanistan, harus ada program untuk memperkuat pemerintahan, termasuk jadwal penarikan pasukan asing. Dan harus ada penyelesaian masalah Iran dan Barat. Dalam kasus Iran, ada pelajaran untuk kita semua, bahwa kesalahan tidak boleh terulang kapanpun, di manapun.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home