| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Wednesday, June 07, 2006,12:16 PM

Fluktuasi Rupiah dan Ekonomi

Oleh : Umar Juoro

Nilai rupiah sempat terdepresiasi cukup tajam seiring dengan menurunnya cukup tajam indeks harga saham minggu yang lalu. Penjelasan mengenai penurunan nilai rupiah ini pada umumnya mengacu pada pengaruh global dipicu oleh kekhawatiran inflasi di AS yang akan mendorong bank sentral AS untuk menaikkan suku bunganya lagi. Perkembangan ini menyebabkan modal jangka pendek yang masuk Indonesia, terutama ke pasar modal, sebagian ditukarkan kembali ke dolar untuk kemudian mengalir lagi ke luar. BI sendiri tidak terlalu khawatir terhadap perkembangan ini karena perbedaan suku bunga dianggap masih cukup menarik investor jangka pendek yang paling tidak untuk bertahan pada investasi di SBI dan SUN. Indeks pasar modal juga masih relatif tinggi sekalipun terjadi koreksi cukup besar.

Kegiatan ekonomi yang menonjol pada saat ini praktis hanya berkisar di pasar modal dan pasar utang atau obligasi, berkaitan dengan SUN (Surat Utang Negara). Kegiatan yang didorong oleh masuknya modal jangka pendek ini yang membantu memperbaiki stabilitas ekonomi makro terutama dalam penguatan rupiah, dan dalam hal tertentu menurunkan inflasi, karena pengaruh inflasi impor menurun dengan menguatnya nilai rupiah. Namun kegiatan ekonomi lainnya praktis tidak terlihat dinamikanya, dan bahkan tampak pelemahan yang berlanjut berkaitan dengan tingginya biaya produksi dan lemahnya daya beli masyarakat.

Sekalipun demikian lembaga pemeringkat internasional Moody and S&P menaikkan peringkat utang Indonesia dengan outlook positif. Ini berarti kemampuan membayar utang pihak Indonesia dianggap cukup baik, sekalipun masih belum optimal. Dengan kata lain peningkatan peringkat utang ini semakin memperkuat bahwa perhatian utama pelaku ekonomi di Indonesia adalah pada kegiatan di sektor finansial.

Selama BI dapat menjaga perbedaan suku bunga antara Indonesia dan AS cukup menarik, dan pemerintah dapat membayar utang dengan lancar, baik untuk SUN maupun pinjaman bilateral dan multilateral, maka minat investor jangka pendek terhadap Indonesia cukup tinggi. Hal ini sangat dimengerti oleh penentu kebijaksanaan moneter dan fiskal. Jika keadaan ini tidak dipertahankan, maka modal jangka pendek ini akan segera lari dari Indonesia dan nilai rupiah akan terpuruk.

Namun menjaga stabilitas ekonomi dengan bergantung pada aliran modal jangka pendek adalah berisiko tinggi, karena sifatnya yang sementara dan tidak terkait langsung dengan perkembangan ekonomi riil. Penguatan nilai rupiah akan terkait dengan perkembangan kegiatan ekonomi riil jika didukung oleh peningkatan ekspor dan investasi langsung dalam jangka menengah dan panjang. Perkembangan ekonomi riil inilah yang dapat menciptakan kesempatan kerja yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Perkembangan ekonomi yang berputar-putar di sektor finansial ini tidak mempunyai pengaruh besar pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan kesempatan kerja. Selain itu biayanya juga cukup besar. SBI adalah instrumen untuk kebijaksanaan moneter dan harus dibiayai oleh BI dengan membayar bunganya yang cukup tinggi, 12,5 persen, sedangkan BI tidak mendapatkan keuntungan finansial dari instrumen ini. SUN juga harus dibiayai dengan cukup mahal baik pokok maupun bunganya dari APBN, sekalipun pemerintah dapat mempergunakan hasil penjualannya untuk menutupi defisit. Namun dengan rendahnya kemampuan pemerintah untuk merealisasikan anggaran, fungsi kebijaksanaan fiskal untuk menstimulasi perekonomian menjadi minimal.

Kegiatan di sektor finansial ini terutama banyak melibatkan sesama investor asing, dan tidak banyak melibatkan investor domestik. Pembeli saham di pasar modal pada umumnya adalah investor asing dari investor asing juga, begitu pula jual-beli SUN dan SBI. Selain itu dengan sulitnya bank domestik mendapatkan debitur yang memadai, mereka juga membeli SBI dan SUN cukup besar. Perputaran dana yang sangat besar di kegiatan finansial ini praktis tidak banyak melibatkan pelaku ekonomi pada umumnya apalagi masyarakat luas.

Sementara itu pertumbuhan ekonomi cenderung melemah per triwulannya, sebagaimana diperlihatkan oleh pertumbuhan pada Triwulan I/06 hanya sebesar 4,6 persen. Jika demikian maka kegiatan perekonomian semakin terpisah antara kegiatan sektor finansial dan sektor riil yang terus mengalami pelemahan. Keadaan sektor riil ini juga merupakan refleksi dari keadaan masyarakat dengan daya beli yang semakin menurun. Lemahnya sektor riil tampak sekali bahwa pertumbuhan sektor industri manufaktur hanya sekitar 2 persen, padahal sektor ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan tinggi dan menyerap tenaga kerja.

Keadaan ini tampaknya masih akan berjalan sepanjang tahun ini. Upaya pemerintah mulai dari menstimulasi perekonomian melalui APBN, membuat peraturan ketenagakerjaan lebih fleksibel, dan mengurangi hambatan investasi lainnya tampaknya belum dapat berjalan dengan optimal. Apalagi program pembangunan infrastrutkur tampaknya hanya ada di atas kertas tanpa pelaksanaan yang berarti. Selama upaya tersebut belum dapat berjalan dengan baik, maka kecenderungan pelemahan perekonomian masih akan berlanjut, dan stabilitas ekonomi semakin bergantung pada bertahannya modal jangka pendek yang tentu saja berisiko tinggi. Sementara itu sebagian besar masyarakat semakin terjauh dari kegiatan ekonomi yang produktif.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home