| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Monday, June 26, 2006,12:09 PM

Disiksa, Dibohongi Pula

Menganggur, bagi sebagian besar manusia usia produktif di belahan Bumi ini, adalah petaka yang sebisa mungkin dihindari. Dengan menganggur, manusia tidak akan mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri.

Lebih dari itu, dengan menganggur, manusia kehilangan kesempatan mengaktualisasikan hidupnya. Penyebabnya, berkembang paradigma, manusia akan dihargai kemanusiaannya kalau ia bekerja dan tak bergantung pada orang lain untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Sama halnya dengan Shinta Marlina Reza (19), menganggur adalah hal tabu yang harus dibuang jauh-jauh dari benaknya. Selain memiliki pertimbangan bahwa sudah saatnya menghasilkan uang sendiri, gadis warga Kampung Cigadok, Desa Sukajaya, Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur, ini memiliki pertimbangan bahwa dia wajib membantu orangtuanya yang hingga usia senja masih bekerja.

Niatnya untuk tidak meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi sudah bulat. Ini dilakukan semata-mata untuk bekerja. Maka, Shinta yang lulus Sekolah Menengah Kejuruan PGRI Cianjur tahun 2004 memutuskan menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Selain tak ada tawaran pekerjaan di dalam negeri yang menjanjikan, cerita sukses teman-teman SMP-nya, yang kini bekerja di luar negeri, membulatkan niatnya tadi. Puluhan teman SMP-nya itu sudah terlebih dulu bekerja di sejumlah negara Timur Tengah meski hanya menjadi pembantu rumah tangga.

Ada yang sudah tiga kali pergi pulang. Itu yang membulatkan tekad saya bekerja di luar negeri, ujar Shinta, Sabtu (11/2).

Namun, cerita sukses teman-teman Shinta ternyata amat berbeda dengan pengalamannya bekerja pada seorang majikan di Arab Saudi. Jangankan meringankan beban orangtua seperti yang dicita-citakannya, mengurus dirinya sendiri saja sulit. Berangkat bulan Januari 2005, Shinta bekerja pada Hisan Munawar Maksum di Mekkah.

Kelabu

Cerita kelabu perjuangan tenaga kerja Indonesia di luar negeri terulang pada Shinta. Shinta memperoleh perlakuan tidak manusiawi dari Hisan, istri, dan anak-anaknya. Kesalahan kecil yang dilakukan Shinta menjadi penyebab kemarahan besar majikannya, yang berujung pada tindak kekerasan. Bahkan, majikannya sering menyiksa tanpa sebab yang jelas.

Saya bekerja sesuai dengan tanggung jawab saya di rumah majikan, tetapi kadang-kadang saya tak melakukan kesalahan juga disiksa, ujar Shinta menceritakan pengalamannya.

Penyiksaan itu terjadi selama sepuluh bulan Shinta bekerja di sana. Akibat penyiksaan tersebut, tangan kanan Shinta cacat, bahkan matanya pun akhirnya tak berfungsi. Kebutaan yang dialami Shinta diperkirakan akibat kepalanya beberapa kali dibenturkan ke tembok dan terakhir kena tinju majikannya.

Penderitaan Shinta tak hanya berakhir pada cacat fisik yang hingga kini belum sembuh. Selama sepuluh bulan bekerja, Shinta tak pernah mendapatkan gaji. Bersamaan dengan dipulangkan paksa oleh majikan karena Shinta semakin lamban bekerja setelah buta, Shinta hanya diberi uang saku 6 real atau setara Rp 15.000.

Ini adalah penipuan terbuka yang dilakukan majikannya kepada Shinta, yang semula menandatangani kontrak untuk bekerja selama dua tahun dengan gaji 600 real per bulan.

Waktu saya dipulangkan secara paksa, majikan memberikan uang yang menurut mereka 600 real. Karena saya tak bisa melihat, uang itu saya terima saja. Namun, waktu akan saya tukarkan di bandar udara, ternyata petugas menyatakan bahwa uang itu hanya 6 real, bukan 600 real, ujar Shinta.

Kemalangannya belum berakhir di situ. Surat perjanjian Shinta dengan PT Dasa Graha Utama yang menyalurkannya bekerja juga seolah-olah tidak ada manfaatnya. Shinta yang pulang dari Mekkah bulan November 2005 dan langsung dirawat di Rumah Sakit Polri dipulangkan paksa pada akhir Januari 2006 oleh PT Dasa Graha Utama kendati penglihatannya belum pulih sama sekali.

Mata sebelah kiri sebenarnya sudah dioperasi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, tetapi tidak membuahkan hasil. Harapan akan mendapat bantuan dari instansi pemerintah pun belum jelas.

Surat kepada menteri

Ogin Ginandjar, kakak ipar Shinta, menyatakan, nasib yang menimpa adik iparnya sudah diadukan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan.

Surat kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang dikirimkan Ogin mendapat nomor penerimaan 1824/BKIM/XII/05 5-12-05, sedangkan surat kepada Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan mendapat agenda bernomor 3069. Namun, sampai kini belum ada tindak lanjut dari kedua instansi yang diharapkan bisa membantu masalah Shinta untuk mendapatkan keadilan atas penyiksaan dan sisa gaji yang belum dibayar itu.

Kendati kemalangan demi kemalangan menimpa Shinta, dia masih dapat mengambil hikmah atas semua kejadian itu. Sekarang saya dapat merasakan betapa sulitnya hidup tanpa penglihatan. Apa-apa harus dibantu orang lain. Namun, mungkin ini cobaan Tuhan yang harus saya jalani, ujar Shinta.

Shinta yakin, Tuhan tidak mungkin memberikan beban yang tak mampu dipikul manusia. Ketegaran Shinta adalah sisi lain manusia teraniaya yang patut kita acungi jempol. Namun, masih ada Shinta-Shinta lain yang tak bisa tegar dan justru didera trauma psikologis.

Dalam konteks ini, pemerintahlah yang mesti memberikan perhatian ekstra kepada para pahlawan devisa itu. Ratusan ribu TKI yang bekerja di luar negeri setiap tahun mengirim valuta asing setara triliunan rupiah ke Tanah Air. Pengiriman uang dari luar negeri tersebut tanpa menguras sumber daya alam. Yang mereka kuras adalah sumber daya mereka sendiri, tenaga dan pikiran. Akan tetapi, penghargaan kepada mereka terasa kurang.

Padahal, TKI bekerja di luar negeri dengan segenap risiko berat, seperti penyiksaan fisik, kerja melebihi jam kerja, dan upah yang kerap tidak sepadan. Shinta menjadi contoh riil tentang hal itu. (D03)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home