| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Friday, March 24, 2006,12:57 PM

Rusia Rangkul Dunia Islam

Faham Demokrasi Tak Bisa Dipaksakan dari Luar



Jakarta, kompas - Kerja sama dengan dunia Islam merupakan hal yang harus dilakukan. Perdamaian dunia tak akan terwujud tanpa adanya kerja sama dengan umat Islam, yang merupakan seperempat dari seluruh penduduk dunia.

Pernyataan itu, yang menyiratkan keinginan Rusia untuk merangkul lebih erat dunia Islam, dinyatakan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Bely, Kamis (23/3). Pernyataan disampaikan dalam acara diskusi bertema ”Dialog soal Kerja Sama Antarperadaban, Rusia dan Dunia Muslim: Sebuah Visi Strategis untuk Masa Depan” (Dialogue on Cooperation Among Civilizations, Russia and The Moslem World: A Strategic Vision for The Future) yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta.

”Sangatlah berbahaya jika sampai terjadi konfrontasi antarbudaya atau antarperadaban. Konflik macam ini jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan konflik ideologi,” kata Bely mengacu pada ramalan pakar politik internasional Amerika Serikat, Samuel Huntington, tentang bakal terjadinya perbenturan peradaban, termasuk antara peradaban Barat dan Islam, setelah berakhirnya era Perang Dingin pada awal 1990-an. Dubes Bely menjadi pembicara kunci dalam acara itu bersama Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin.

Menurut Bely, kerja sama praktis dengan dunia Islam merupakan hal penting karena perdamaian dunia tak mungkin terwujud tanpa adanya kerja sama dengan dunia Islam.

”Dalam konteks ini, Rusia merasa terhormat karena dalam pertemuan Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada tahun 2005 Rusia diberi status khusus sebagai peninjau permanen,” ujarnya.

Bely juga menegaskan kembali sikap Rusia yang menolak mengaitkan terorisme dengan Islam. Ia mengingatkan bahwa dalam peristiwa serangan 11 September 2001 di New York dan Washington juga banyak warga negara Islam yang ikut menjadi korban.

Menurut Bely, Rusia menyesalkan dengan apa yang terjadi di Palestina, Irak, dan apa yang terjadi atas Iran (dengan program nuklirnya). ”Tindakan mengisolasi Hamas, partai pemenang pemilihan umum di Palestina, tidak akan membawa manfaat bagi usaha perdamaian di Timur Tengah. Melancarkan perang merupakan sebuah tindakan yang salah. Israel dan Palestina seharusnya justru bekerja sama,” katanya.

AS dan Israel menolak kemenangan Hamas yang dicap sebagai kelompok teroris dan mengancam akan menghentikan berbagai bantuan bagi Palestina jika pemerintahan Hamas berkuasa. Rusia justru mendukung pemerintahan Hamas yang dipimpin Perdana Menteri Ismail Haniya dan mengundang mereka berkunjung ke Moskwa.

”Rusia dan Islam bukan sekadar bisa menjadi mitra, tetapi bahkan dapat menjadi sekutu dalam menghadapi musuh bersama, termasuk dalam perang melawan terorisme,” ujarnya.

Terkait dengan demokrasi, menurut Bely, ideologi itu tak dapat dipaksakan dari luar. Itu sebabnya posisi Rusia terhadap perang yang memaksakan sistem demokrasi dianggap sebagai kesalahan terhadap umat manusia.

Menurut rencana, pada 27-28 Maret mendatang umat Islam Rusia, yang berjumlah sekitar 20 juta jiwa, akan menggelar pertemuan internasional di Moskwa untuk menyusun apa yang disebut sebagai visi strategis global (global strategic vision) tentang Rusia dan dunia Islam.

Islam harus menyambut

Dalam kesempatan sama, Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, dunia Islam dan Barat memang perlu berdialog untuk menghindari benturan peradaban yang menjadi tesis Huntington. ”Dialog yang intensif di antara keduanya akan sangat berguna untuk mendukung perdamaian,” ujar Din.

Tentang usaha Rusia mendekati dunia Islam, Din menilai usaha ini patut disambut baik dunia Islam. ”Apalagi perkembangan Islam di Rusia dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan pertumbuhan tercepat di dunia non-Muslim,” ujarnya.

Dunia Islam, menurut Din, setidaknya memiliki tiga modal besar, yaitu sumber daya manusia yang sangat besar, sumber kekayaan alam yang belum tergali semua, dan sumber nilai Islam yang dijadikan pegangan.

”Modal yang dimiliki, jika dapat dimanfaatkan, akan menjadi kekuatan besar,” ujarnya.

Sedangkan pengamat politik Rusia, Fadli Zon, yang juga menjadi pembicara, mengatakan, untuk melihat Rusia pascaperubahan 1991 dan saat ini, harus diletakkan dalam konteks peta dunia yang didominasi Amerika Serikat. Meskipun Rusia mewarisi tiga perempat Uni Soviet, pemimpinnya harus berjuang keras untuk mengembalikan kebesaran Rusia.

”Usaha itu sekarang mulai tampak di bawah Presiden Putin yang berhasil membawa Rusia sebagai pemimpin G-8,” ujarnya.

Terkait dengan dunia Islam, menurut Fadli, Rusia sempat menghadapi dilema ketika menghadapi pemberontakan Chechnya. Di satu sisi ingin mendekati dunia Islam, tetapi Rusia juga menghadapi keinginan merdeka dari sebagian wilayah kedaulatannya. (mam/muk)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home