| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Friday, February 24, 2006,2:54 PM

Tanah Hitam di Amazon, Kaya Nutrisi dan Ramah Lingkungan

Jakarta, Jumat

Terra preta mungkin dapat mengatasi masalah pertanian modern dan mencegah pemanasan global. Tanah berwarna hitam yang dibuat oleh orang-orang Amazon ribuan tahun lalu itu berasal dari sampah yang dibakar sedikit demi sedikit dalam bentuk bara.
Para arkeolog dari Universitas Sao Paulo, Brazil percaya bahwa penduduk asli Amazon tidak sengaja membuatnya untuk tujuan pertanian. Namun, tanah hasil pembakaran sampah itu memiliki kandungan zat hara sangat tinggi.

"Penduduk asli di sana bukanlah petani. Potensinya baru disadari setelah para petani modern menemukannya," kata seorang arkeolog Eduardo Goes Neves. Justru para petani di sekitar Amazon yang sekarang mendapatkan warisan tanah subur ini.
Bahan baku terra preta banyak dicari para petani lokal di Brazil untuk meningkatkan produksi panennya. Dengan jumlah populasi hampir 200 juta penduduk dan sumber terra preta yang terbatas, para ilmuwan khawatir hal tersebut akan mempercepat berkurangnya sumber tanah hitam, salah satu situs arkeologi yang bernilai sejarah tinggi.

"Tanah hitam di Amazon tidak hanya mengajarkan kami bagaimana mengembalikan kondisi tanah yang rusak, melipatgandakan hasil panen, dan menanam banyak batang tanaman di tanah yang tandus, namun juga cara mengembangkan teknologi untuk mempertahankan karbon di tanah dan mencegah perubahan iklim dunia," kata Johannes Lehmann, seorang ahli kimia biologi di Universitas Cornell.

Selain kaya nutrisi, proses pembuatan tanah hitam melepaskan lebih sedikit karbon dioksida secara langsung ke atmosfer sehingga dapat menekan pemanasan global. Lehmann dan Neves melaporkan hasil temuannya dalam pertemuan tahunan Asosiasi Pemutakhiran Sains Amerika minggu lalu.

Tanah hitam tiruan
Menyiapkan terra preta baru dengan cara meniru apa yang dilakukan penduduk purba mungkin akan lebih bermanfaat, baik bagi petani maupun bagi lingkungan hidup. Metode pembakaran tiruan ini disebut ’potong dan bakar hingga membara’, mirip dengan proses yang dilakukan penduduk Amazon purba.

Metode tersebut akan mengurangi karbon dioksida di udara. Reaksi pembakaran yang berlangsung akan menangkap karbon dari udara lalu menyimpannya dalam tanah. Cara tersebut juga dapat mengurangi kadar emisi metana dan nitrogen oksida yang dilepaskan dari tanah ke atmosfer. Menurut Lehmann, mengadaptasi metode potong dan bakar hingga membara seperti yang dilakukan penduduk Amazon dapat menurunkan emisi karbon hingga 12 persen.

Para petani di berbagai belahan dunia pada umumnya menggunakan metode ’potong dan bakar hingga hangus’ untuk menyiapkan ladang sebelum memasuki musim tanam. Hal tersebut biasanya dilakukan untuk mempercepat proses pembakaran, namun menghasilkan gas karbon dioksida dalam jumlah besar.

Untuk mencegah kerusakan situs arkeologi di Brazil lebih luas lagi dan meningkatkan produksi pertanian di dunia, para peneliti telah menerapkan metode modern untuk membuat tanah hitam ini. Caranya, siapkan sejumlah tanah biasa, tambahkan satu genggam arang, daun, dan kotoran sapi secukupnya. Campuran ytersebut memiliki sifat seperti terra preta meskipun dengan versi modern yang disebut bio-arang.

"Bio-arang adalah bahan yang sangat efisien untuk mempertahankan nutrisi. Bahan tersebut akan mengikat lebih banyak karbon di tanah daripada material organik yang tidak dibuat menjadi arang," kata Lehmann.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home