| HOME | WRITING | IND-CLIPPING | ENG-CLIPPING | MUSIC |
Thursday, February 23, 2006,11:06 AM

Amerika Latin Melawan Neoliberalisme

M Fadjroel Rachman

Hantu sosialisme sedang membayangi Amerika Latin. Proyek neoliberalisme yang mengibarkan panji Konsensus Washington gemetar di hadapannya.

”Mimpi buruk bagi Amerika Serikat (AS),” kata petani koka yang menjadi Presiden Bolivia Evo Moralles, dengan Gerakan Menuju Sosialisme (MAS).

Disusul Cile dari Partai Sosialis dalam koalisi kiri-tengah La Concertacion, Michele Bachelet. Presiden Bachelet, pendukung Salvador Allende yang dibunuh Pinochet pada kudeta ”Operasi Jakarta 1973”, sempat disiksa. Venezuela digenggam kolonel pensiunan, militer-progresif, Hugo Chavez. Brasil di tangan Luiz Inazio Lula da Silva dari Partido Trahabaldores (Partai Buruh).

Uruguay dipimpin Tabare Vasquez dari Frente Amplio (Broad Front). Alfredo Palacio memimpin Ekuador, sebelumnya wakil presiden kolonel kiri Lucio Gutierrez. Argentina dipimpin Nestor Kirchner dari Partai Peronis dengan platform politik kiri- tengah. Farabundo Marti National Liberation (FMLN), dari organisasi gerilyawan menjadi kekuatan politik kedua di El Salvador.

Sosialisme dan pemilu

Sosialisme apa ini? Beragam perspektif dan strategi pemerintah, dari participatory budgeting Lula hingga renta petrolera Chaves. Secara umum spektrum ideologis gerakan sosialis bergerak dari garis kontinum tengah dan kiri radikal menuju ke kiri tengah. Koalisi bernama Frente Amplio (Front Besar) di Uruguay dan La Concertacion di Cile merupakan cermin beragamnya elemen. Mereka menyebut ”keluarga kiri” karena yang terlibat Katolik/Kristen, intelektual bebas, Marxist, kiri-baru, serikat buruh, suku asli Indian, dan militer progresif, juga gerilyawan Uruguay, El Salvador, dan Bolivia.

Gagasan ekstrem kiri yang dianut Fidel Castro, kuncen Amerika Latin (1959), sebagian berseberangan dengan sosialisme di Amerika Latin sekarang. Karena Castro tetap mempertahankan kediktatoran proletar dengan partai tunggal, tanpa pemilu, dan menjadi presiden seumur hidup.

Sumber inspirasi historis mereka, Allende (1970-1973), Sandinista (1979-1990), Juan Peron, dan runtuhnya Tembok Berlin mengakhiri kediktatoran proletar Uni Soviet dan Eropa Timur.

Konsensus Washington

Saat kediktatoran militer menjamur dalam perang dingin AS- Uni Soviet, aktivis sosialis di Amerika Latin termasuk Indonesia bergerilya. Pasca-Perang Dingin, strategi menjadi gerakan elektoral memanfaatkan ruang demokratis melalui pemilu. AS mendorong pemilu prosedural guna membentuk rezim representatif yang mendukung neoliberalisme, kapitalisme-pasar-bebas (free-market-led-capitalism) menggantikan kapitalisme-negara (state-led-capitalism) di bawah diktator militer.

Melawan Konsensus Washington merupakan penggerak utama gelombang sosialisme Amerika Latin. Perjuangan demokrasi dalam politik melawan kapitalisme baru, neoliberalisme.

Apakah Konsensus Washington itu? (1) mengurangi pengeluaran publik, khususnya militer dan administrasi publik; (2) liberalisasi keuangan, dengan suku bunga yang ditentukan pasar; (3) liberalisasi perdagangan, disertai penghapusan izin impor dan pengurangan tarif; (4) mendorong investasi langsung asing; (5) privatisasi BUMN; (6) deregulasi ekonomi; (7) nilai tukar yang kompetitif untuk pertumbuhan berbasis ekspor; (8) menjamin disiplin fiskal dan mengendalikan defisit anggaran; (9) reformasi pajak; (10) perlindungan hak cipta. Semua itu tercermin dalam agenda WTO, Bank Dunia, IMF, dan perbankan regional (ADB, AfDB, IADB, EBRD).

Prospek dan masalah

Bila pemerintahan kiri bertahan 1-2 periode pemilu, wajah Amerika Latin akan berubah. Mereka menghantam kemiskinan, ketimpangan sosial, dan jerat utang luar negeri. Kini 60 persen populasi Amerika Latin hidup miskin, 30 persen di antaranya miskin ekstrem, 40 persen pendapatan nasional diraup 10 persen terkaya, sedangkan 40 persen termiskin meraih 15 persen.

Selama 1992-2001, 1,2 triliun dollar AS untuk membayar utang luar negeri. Namun, jumlah utang meningkat dua kali, dari 478,700 juta dollar AS (1992) menjadi 817,200 juta dollar AS (2001).

Mereka juga mempromosikan demokrasi partisipatif, seperti participatory budgeting di Brasil, sehingga APBD (mungkin APBN) menjadi hak demokratis tiap warga negara guna menentukan alokasinya. Kelemahan eksperimen Amerika Latin di antaranya (1) alternatif kebijakan terjebak perangkap neoliberal sehingga Cile disebut soft neoliberalism; rezim kanan El Salvador menandatangani pakta perdagangan bebas dengan AS, memunggungi FMLN; (2) populisme nasional Peronis lebih kuat mewarnai Chavez; (3) sosialisme warna- warni karena perspektif teoritis beragam, eklektik, dan terikat program jangka pendek; (4) jebakan korupsi mewarnai pemerintahan; (5) kepemimpinan gerilya menghambat kepemimpinan demokratis.

Masa depan sosialisme Amerika Latin amat tergantung pada upaya menciptakan alternatif sistem ekonomi solidaritas global dan regional (Axis of Good Chaves, Moralles, dan Castro) menandingi neoliberalisme global. Juga kemungkinan munculnya Jenderal Pinochet lain untuk menggulung gelombang sosialisme Amerika Latin?

Bagi kita, mencari ilmu boleh sampai China. Tetapi, belajar melek demokrasi partisipatif, belajarlah ke Amerika Latin.

M Fadjroel Rachman
Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan (Pedoman Indonesia)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home